KALIMANTAN TENGAH — Total War: Warhammer 40,000 bukan sekadar reskin dari seri Total War: Warhammer sebelumnya. Dalam sesi demo selama satu jam di konvensi Koeln, Creative Assembly menunjukkan bahwa mereka serius membangun fondasi baru untuk franchise strategi legendaris ini. Ini juga menjadi game pertama mereka dengan rating 18+, yang terlihat jelas dari visualisasi pertempuran yang jauh lebih brutal.
Brand manager Creative Assembly menyebut timnya menargetkan game ini sebagai "game 40k paling definitif" yang pernah ada. Dari apa yang kami mainkan, klaim itu bukan omongan kosong belaka.
Perbedaan paling fundamental ada pada sistem combat. Total War selama ini dikenal dengan formasi jarak dekat dan panah, tapi 40k dibangun di atas dominasi senjata api. Alhasil, cover dan garis pandang menjadi elemen krusial yang tidak bisa diabaikan.
Peta-peta dihiasi reruntuhan bangunan dan barikade darurat. Menempatkan pasukan di posisi berlindung adalah kunci bertahan hidup. Namun, cover bukan jaminan mutlak—unit berat seperti truk Ork bisa menghancurkan posisi bertahan Space Marine hanya dengan menabrakkannya. Momen ketika sebuah truk Ork melindas pasukan kami di balik cover tipis menjadi salah satu highlight paling mengesankan dalam sesi demo.
Fitur ini mengingatkan pada mekanik cover di seri klasik Dawn of War. Bagi pemain yang merindukan era RTS 40k tersebut, ini kabar yang sangat baik.
Creative Assembly tidak setengah-setengah menerjemahkan aturan tabletop ke dalam game digital. Sistem rekrutmen pasukan cadangan adalah contoh paling jelas. Alih-alih berjalan dari tepi peta seperti Total War biasa, unit cadangan di 40k melakukan deep strike dari orbit ke lokasi yang kita tentukan.
Melihat drop pod berisi Terminator jatuh tepat di belakang garis musuh dan langsung membongkar pertahanan mereka adalah fantasi yang dieksekusi dengan sempurna. Unit yang hampir melarikan diri juga akan mengalami battleshock, mekanik yang akrab bagi pemain tabletop.
Detail kecil seperti ini menunjukkan bahwa Creative Assembly paham apa yang diinginkan penggemar 40k, bukan sekadar mengambil lisensi lalu menempelkannya ke formula lama.
Bagian kampanye yang kami mainkan berlatar di satu planet dalam sebuah sistem tata surya. Peta dibagi menjadi beberapa wilayah yang dikuasai faksi berbeda, secara mekanik mirip Total War pada umumnya. Tapi presentasinya luar biasa—hamparan gurun tandus, flora asing di sekitar pemukiman barang rongsokan, dan sampah antariksa yang melayang di orbit. Kapal perang Space Marine tampak gagah melayang di atas peta.
Ada juga momen menarik ketika kami menemukan Land Raider rusak di salah satu tile peta. Unit bisa dipindahkan ke lokasi tersebut untuk memulihkannya. Upgrade pemukiman untuk memberikan debuff kesehatan ke pasukan penyerang juga tersedia, menunjukkan bahwa elemen manajemen Total War tetap hadir dalam bentuk terbaiknya.
Secara visual, game ini menawan. Dentuman bolter terasa pas, dan Dreadnought yang berjalan melintasi medan perang punya bobot yang pantas. Zoom ke level paling dekat saat pertempuran terasa seperti membuka portal menuju kegelapan 40k.
Total War punya reputasi sebagai game strategi yang sulit diakses. Namun, dari tutorial yang kami mainkan, penjelasan diberikan secara bertahap dan jelas. Tim pengembang mengklaim ini adalah game paling mudah didekati yang pernah mereka buat—klaim yang tampaknya masuk akal mengingat alur tutorialnya yang smooth.
Total War: Warhammer 40,000 jelas dirancang untuk dimainkan ratusan jam, dengan kampanye yang akan membentang melintasi banyak planet. Sesi singkat ini baru secuil dari keseluruhan pengalaman, tapi kesan pertama yang ditinggalkannya sangat kuat. Game ini berpotensi menjadi judul yang dinanti-nantikan para penggemar strategi di Indonesia, terutama yang sudah akrab dengan dunia Warhammer 40,000.