KALIMANTAN TENGAH — Kebanyakan orang mengira sistem operasi seluler hanya ada dua pilihan: Android dan iOS. Namun, di komunitas pengembang, ada opsi ketiga yang jarang terekspos: menjalankan distribusi Linux langsung di atas perangkat keras ponsel, bukan sekadar virtualisasi di dalam Android.
Seorang pengguna baru-baru ini membuktikan konsep tersebut dengan memasang Linux pada iPhone 6S. Meski terdengar teknis, eksperimen ini menyoroti potensi besar untuk menghidupkan kembali perangkat lama yang sudah tidak mendapat dukungan pembaruan sistem dari Apple.
Yang dimaksud di sini bukanlah Android yang berbasis kernel Linux. Pemasangan yang dilakukan adalah distribusi Linux desktop yang berjalan langsung di atas perangkat keras iPhone 6S. Ini adalah proyek porting yang membutuhkan penyesuaian tingkat rendah, bukan sekadar menginstal aplikasi dari toko aplikasi.
Konsekuensinya, banyak aplikasi dan layanan yang biasa digunakan di iOS atau Android tidak akan berfungsi. Pengguna harus siap dengan keterbatasan ini sebelum mencoba. Namun, bagi yang tertarik dengan eksplorasi teknis, ini adalah proyek yang menarik.
Pelaku eksperimen ini mengakui bahwa proses pemasangannya sangat merepotkan. Tidak ada panduan resmi dari Apple, dan semua langkah dilakukan secara manual dengan alat-alat pengembangan. Ini bukan aktivitas untuk pengguna awam yang hanya ingin mencoba-coba.
Kesulitan utama terletak pada penyesuaian driver dan bootloader agar sistem operasi Linux dapat berkomunikasi dengan komponen hardware iPhone 6S. Berbeda dengan PC yang memiliki standar universal, setiap komponen ponsel memerlukan perlakuan khusus.
Terlepas dari kerumitannya, proyek ini menunjukkan nilai dari upaya modding perangkat keras. iPhone 6S yang dirilis bertahun-tahun lalu dan sudah dianggap usang secara komersial, masih mampu menjalankan sistem operasi modern di luar ekosistem Apple.
Bagi pengguna yang memiliki ponsel lama menganggur di laci, pendekatan semacam ini bisa menjadi cara untuk memanfaatkannya kembali. Meski tidak praktis untuk penggunaan harian, hasilnya tetap menjadi bukti bahwa perangkat keras lama masih memiliki potensi komputasi yang layak.
Eksperimen ini juga membuka wawasan bahwa batas dukungan perangkat lunak resmi bukanlah akhir dari segalanya. Dengan pengetahuan dan kesabaran, pengguna bisa mengambil kendali penuh atas perangkat yang mereka miliki.