KALIMANTAN TENGAH — FIFA telah mengkonfirmasi akan menggelar pemilihan presiden pada Maret 2026. Namun, alih-alih persaingan sengit, proses demokrasi di tubuh induk sepak bola dunia itu hanya akan menjadi formalitas. Gianni Infantino, petahana, dipastikan melenggang mulus tanpa lawan.
Berdasarkan laporan The Guardian, lebih dari 200 asosiasi anggota telah mengirimkan surat dukungan resmi untuk masa jabatan keempat Infantino. Hanya segelintir negara yang belum menyatakan sikap, dengan Jerman menjadi yang paling vokal di antara yang belum mendeklarasikan dukungan.
Gelombang dukungan ini datang meskipun FIFA dilanda serangkaian kontroversi sepanjang musim panas lalu. Skandal kartu merah yang melibatkan pemain Timnas Nigeria, Leon Balogun, menjadi salah satu isu panas. Namun, Infantino seolah kebal terhadap badai kritik.
Menariknya, badan pengawas olahraga dunia seperti IOC (Komite Olimpiade Internasional) diperkirakan tidak akan menjatuhkan sanksi apa pun kepada bos FIFA tersebut terkait skandal Balogun. Ini menunjukkan betapa kuatnya posisi Infantino di panggung sepak bola global.
Menanggapi kritik yang terus berdatangan, Infantino memberikan respons yang khas. Ia meminta para penggemar sepak bola untuk "bersantai" atau chill atas berbagai kritik yang dialamatkan kepada FIFA. Pernyataan ini semakin mempertegas sikapnya yang tak terusik oleh tekanan eksternal.
FIFA sendiri belum memberikan komentar resmi terkait laporan dominasi dukungan untuk Infantino ini. Namun, dengan lebih dari 200 surat dukungan di tangan, hasil pemilihan Maret mendatang sudah bisa ditebak. Infantino akan melanjutkan kepemimpinannya hingga 2030.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apa yang membuat kekuasaan Infantino begitu tak tersentuh? Jawabannya mungkin terletak pada distribusi kekuasaan dan sumber daya. Sejak menjabat, Infantino telah berhasil menggandeng banyak federasi kecil dengan program pengembangan sepak bola yang masif.
Program-program tersebut memberikan dampak langsung berupa pendanaan, infrastruktur, dan kesempatan bagi negara-negara yang selama ini terpinggirkan. Akibatnya, federasi-federasi ini menjadi pendukung setia tanpa syarat. Kritik dari negara-negara besar seperti Jerman pun menjadi tidak relevan di hadapan blok suara yang solid.
Dengan skema ini, Infantino berhasil menciptakan sistem di mana popularitas diukur bukan dari opini publik Eropa, melainkan dari jumlah dukungan yang ia kumpulkan dari seluruh penjuru dunia. Dan angka itu, seperti yang terlihat sekarang, sangat telak.