PALANGKA RAYA — Prof. Bhayu yang juga menjabat Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR menyampaikan ajakan tersebut di sela kesibukannya sebagai akademisi. Menurutnya, pemilihan rektor adalah bagian dari demokrasi akademik yang harus dijalankan dengan etika dan profesionalisme.
“Saya berharap proses pemilihan ini berjalan damai, sejuk, dan penuh penghormatan satu sama lain. Siapa pun yang terpilih nanti, tujuan kita tetap sama, yakni membawa UPR semakin maju,” kata Prof. Bhayu dalam keterangannya, baru-baru ini.
Di tengah berbagai isu yang beredar, Prof. Bhayu mengaku memilih untuk tidak menghabiskan energi menanggapi hal-hal yang bersifat polemik. Ia lebih memilih fokus memikirkan pengembangan UPR ke depan.
“Daripada menghabiskan energi untuk menanggapi berbagai isu, saya memilih fokus memikirkan bagaimana UPR dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Prof. Bhayu menilai UPR saat ini menghadapi sejumlah tantangan yang membutuhkan perhatian bersama. Mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, penguatan riset dan inovasi, hingga kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan di Kalimantan Tengah.
Ia meyakini setiap calon memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan gagasan terbaik. Kualitas pemikiran, rekam jejak, dan pengabdian kepada institusi akan menjadi penilaian utama dalam proses pemilihan.
Prof. Bhayu berharap seluruh pihak dapat menyikapi setiap dinamika secara bijaksana. Hal ini penting agar semangat membangun kampus yang unggul dan berdaya saing tidak terganggu.
“Saya tidak ingin proses ini meninggalkan perpecahan. Setelah seluruh tahapan selesai, kita tetap menjadi satu keluarga besar UPR yang memiliki tanggung jawab membangun universitas ini bersama-sama,” katanya.
Ia pun mengingatkan bahwa siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin UPR, seluruh sivitas akademika harus bersatu kembali. Tujuannya sama: memajukan universitas dan memberikan kontribusi terbaik bagi Kalimantan Tengah maupun Indonesia.