BUNTOK — Pemkab Barito Selatan mencatatkan realisasi Pendapatan Daerah yang masih rendah di pertengahan tahun anggaran 2026. Berdasarkan data APBD 2026, dari target Rp1,27 triliun lebih, baru sepertiga yang berhasil direalisasikan dalam tujuh bulan pertama tahun ini.
Secara rinci, komponen terbesar pendapatan daerah Barsel berasal dari Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) yang mencapai Rp356,41 miliar. Disusul Pendapatan Lainnya sebesar Rp38,89 miliar. Sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi kontributor paling kecil, hanya Rp36,10 miliar.
Rendahnya angka PAD ini menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah daerah. Ketergantungan terhadap dana transfer dari pusat masih sangat tinggi untuk membiayai belanja daerah.
Kondisi fiskal Barsel juga dihadapkan pada penurunan pagu anggaran. Total Pendapatan Daerah dalam APBD 2026 turun 14,76 persen dari anggaran tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan tren nasional di mana dana bagi hasil dari pemerintah pusat ke daerah mengalami pengurangan signifikan.
Dalam catatan Databoks Katadata, dana bagi hasil pusat untuk daerah turun hingga 75 persen pada 2026. Hal ini jelas mempengaruhi kapasitas fiskal Pemkab Barito Selatan dalam menjalankan program pembangunan dan pelayanan publik.
Dengan realisasi yang baru sepertiga dari target di pertengahan tahun, pemerintah daerah perlu menggenjot penyerapan anggaran di sisa semester kedua. Kendala utama biasanya terletak pada proses lelang proyek yang molor atau realisasi belanja modal yang belum maksimal.
Selain itu, minimnya PAD menunjukkan basis ekonomi lokal belum memberikan kontribusi optimal. Sektor pajak daerah dan retribusi menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi agar Barsel tidak terlalu bergantung pada anggaran dari pusat yang terus menurun.