PALANGKA RAYA — Hasil kurang maksimal pada laga pembuka Piala Dunia 2026 tak menyurutkan keyakinan para pendukung Timnas Spanyol di Kalimantan Tengah. Mereka tetap percaya skuad asuhan Luis de la Fuente mampu melangkah jauh hingga partai puncak.
Di TVRI Kalteng, Senin (15/6) malam, sejumlah suporter berkumpul menyaksikan laga yang berakhir tanpa gol itu. Salah satunya, Firdaus (19), yang mengaku tidak kecewa dengan hasil imbang kontra Tanjung Verde.
“Enggak kecewa sih, karena masih imbang. Kalau mau dikaitkan, mungkin seperti ‘konspirasi' Piala Dunia 2022. Waktu itu Argentina yang akhirnya juara justru kalah 1-2 dari Arab Saudi pada pertandingan pertama,” ujarnya.
Firdaus menilai permainan Spanyol tetap menjanjikan. Menurutnya, kegagalan mencetak gol lebih disebabkan oleh strategi bertahan total lawan yang sulit ditembus.
“Spanyol sebenarnya tampil bagus. Hanya saja lawan bermain sangat bertahan atau parkir bus sehingga cukup sulit ditembus,” kata dia.
Ketertarikan Firdaus terhadap La Furia Roja bukan tanpa alasan. Ia mengaku mulai mengikuti timnas Spanyol sejak Piala Dunia 2018, berawal dari kecintaannya pada klub Barcelona.
“Saya mendukung Spanyol sejak Piala Dunia 2018. Awalnya karena saya penggemar Barcelona sejak musim 2014/2015, jadi ikut mengikuti perkembangan pemain-pemain Spanyol,” tuturnya.
Meski lini depan masih dinilai sebagai titik lemah, Firdaus tetap yakin Spanyol bisa juara. Ia menyebut absennya striker tajam seperti Fernando Torres atau David Villa menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
“Dari kiper sampai lini depan sebenarnya bagus. Cuma Spanyol dari dulu agak kekurangan striker. Dulu ada Fernando Torres dan David Villa, sedangkan sekarang belum ada penyerang yang benar-benar tajam,” jelasnya.
Di antara skuad saat ini, Firdaus mengaku punya satu pemain favorit. Gelandang Barcelona, Pedri, menjadi sosok yang paling ia kagumi di timnas Spanyol.
“Pemain favorit saya di Timnas Spanyol sekarang Pedri,” pungkasnya.
Keyakinan para pendukung Spanyol di Palangka Raya ini menjadi cerminan bahwa demam Piala Dunia tidak hanya terasa di kota-kota besar, tetapi juga hingga ke jantung Kalimantan. Mereka berharap hasil kurang maksimal di laga perdana hanya menjadi awal dari perjalanan panjang menuju gelar juara.