BPBD Kotim Keluhkan Dampak Dolar Naik ke Pengadaan Peralatan Penanggulangan Bencana

Penulis: Qodri Anwar  •  Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:35:31 WIB
BPBD Kotim menghadapi tantangan pengadaan alat penanggulangan bencana akibat kenaikan nilai tukar dolar AS.

SAMPIT — Kenaikan nilai tukar dolar AS kini berdampak langsung pada operasional penanggulangan bencana di Kotawaringin Timur. BPBD setempat menyebut pengadaan sejumlah peralatan yang bergantung pada produk impor ikut terganggu.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menjelaskan bahwa peralatan seperti perahu karet, mesin pompa air, hingga alat komunikasi tertentu masih sangat bergantung pada barang impor. "Fluktuasi dolar sangat memengaruhi harga. Beberapa item pengadaan harus kami tunda karena harganya melonjak drastis," ujarnya.

Peralatan Apa Saja yang Terdampak?

Multazam merinci beberapa jenis peralatan yang paling terpengaruh lonjakan dolar. Perahu karet bermesin tempel, misalnya, mengalami kenaikan harga hingga belasan persen dalam beberapa bulan terakhir. Hal serupa terjadi pada suku cadang pompa air dan alat komunikasi genggam yang komponennya mayoritas impor.

BPBD Kotim selama ini mengandalkan peralatan tersebut untuk merespons banjir musiman di wilayah pesisir dan dataran rendah. Tanpa pasokan alat yang memadai, waktu tanggap darurat berpotensi melambat.

Dampak ke Anggaran dan Jadual Pengadaan

Kondisi ini memaksa BPBD Kotim merombak prioritas belanja. Anggaran yang semula dialokasikan untuk pembelian unit baru sebagian besar dialihkan untuk perawatan dan perbaikan alat yang sudah ada. "Kami utamakan yang darurat dulu. Pembelian baru kami tunda sampai kurs stabil," kata Multazam.

Beberapa paket pengadaan yang sudah masuk tahap lelang terpaksa dihentikan sementara. BPBD berharap ada kebijakan relaksasi anggaran dari pemerintah daerah agar proses pengadaan tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas alat.

Upaya Antisipasi BPBD Kotim

Selain menunda pembelian, BPBD Kotim mulai menjajaki kerja sama dengan penyedia jasa sewa peralatan. Langkah ini diambil untuk menjaga kesiapsiagaan tanpa harus mengeluarkan biaya besar di muka. "Kami juga dorong penggunaan produk lokal yang tidak terpengaruh dolar, seperti tali tambang dan pelampung buatan dalam negeri," tambah Multazam.

Dengan kondisi ini, BPBD Kotim berharap pemerintah pusat dan daerah segera memberikan insentif atau subsidi khusus untuk pengadaan alat penanggulangan bencana yang bergantung pada impor. Jika tidak, risiko keterlambatan respons bencana di musim hujan mendatang semakin besar.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: radarsampit.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top