KALIMANTAN TENGAH — Kepala BBMKG Wilayah III Cahyo Nugroho di Denpasar, Minggu (31/5/2026), menjelaskan bahwa fenomena Bulan Purnama berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum secara signifikan. Berdasarkan pantauan data level air dan prediksi pasang surut, wilayah yang masuk zona waspada meliputi pesisir selatan Jembrana, pesisir selatan Tabanan, pesisir Kabupaten Badung, pesisir Kota Denpasar, pesisir Kabupaten Gianyar, dan pesisir selatan Kabupaten Klungkung.
"Penyebabnya fenomena Bulan Purnama pada 31 Mei," ujar Cahyo dalam keterangan yang dilansir Antara.
Cahyo menekankan bahwa potensi banjir rob tidak terjadi serentak di seluruh titik. Waktu hari dan jam puncak pasang maksimum berbeda di tiap wilayah pesisir. Masyarakat diminta tidak hanya waspada pada satu tanggal tertentu, tetapi memantau jadwal spesifik di lokasi masing-masing.
"Masyarakat diimbau selalu waspada dan siaga untuk antisipasi dampak dari pasang maksimum air laut," jelas Cahyo.
BBMKG mengidentifikasi tiga sektor yang paling terancam. Pertama, aktivitas bongkar muat di pelabuhan yang bisa terganggu jika dermaga terendam. Kedua, permukiman pesisir yang berisiko mengalami genangan. Ketiga, tambak garam dan perikanan darat yang sensitif terhadap perubahan ketinggian air.
Masyarakat dapat memperbarui informasi cuaca maritim melalui laman resmi bbmkg3.bmkg.go.id atau maritim.bmkg.go.id. Informasi juga tersedia di Instagram @bmkgbali dan aplikasi info BMKG. BBMKG mengingatkan agar warga tidak hanya mengandalkan informasi dari satu sumber dan selalu merujuk pada data resmi yang diperbarui secara berkala.
Sebelumnya, BPBD DKI Jakarta juga mengeluarkan peringatan dini waspada banjir pesisir untuk periode 27 Mei hingga 5 Juni 2026 di pesisir utara Jakarta. Sebanyak 12 wilayah, termasuk Kamal Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, hingga Kepulauan Seribu, diminta waspada. Peringatan ini didasarkan pada informasi BMKG tentang pasang maksimum air laut yang bersamaan dengan fase Bulan Purnama pada 31 Mei 2026.