PALANGKA RAYA — Kawasan Puntun, Kota Palangka Raya, kembali menjadi perhatian setelah Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN) menyoroti maraknya dugaan transaksi sabu-sabu di wilayah tersebut. Organisasi masyarakat itu mengecam situasi yang dinilai sudah berlangsung lama dan meresahkan warga.
Puntun selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan padat penduduk di Palangka Raya. Namun, di balik hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari, GDAN mencium adanya pergerakan barang haram yang cukup aktif. "Kami menerima laporan dari warga bahwa transaksi sabu di Puntun masih marak. Ini tidak bisa dibiarkan," ujar perwakilan GDAN dalam pernyataan resminya.
Kecaman itu bukan tanpa dasar. GDAN menilai aparat penegak hukum belum maksimal dalam memberantas peredaran narkoba di titik-titik rawan seperti Puntun. Mereka mendesak agar patroli dan penggerebekan ditingkatkan, terutama pada jam-jam rawan malam hari. "Kami minta polisi turun tangan. Jangan sampai Puntun jadi pasar gelap yang terus beroperasi," tegasnya.
Keresahan warga bukan isapan jempol. Lingkungan yang kerap dijadikan ajang transaksi narkoba membuat rasa aman masyarakat terusik. Beberapa warga disebut enggan keluar rumah pada malam hari karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. GDAN pun meminta partisipasi aktif warga untuk melaporkan setiap aktivitas mencurigakan ke pihak berwajib.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Polresta Palangka Raya terkait desakan GDAN. Namun, organisasi tersebut berjanji akan terus memantau perkembangan di Puntun. Jika tidak ada perubahan, mereka tidak menutup kemungkinan akan menggelar aksi unjuk rasa untuk menekan aparat.