SAMPIT — Fenomena "boti" atau laki-laki yang berperilaku dan berdandan menyerupai perempuan kini tidak lagi sekadar guyonan di kalangan remaja Sampit. Praktik ini sudah terlihat terbuka di lingkungan sekolah dan pertemanan sehari-hari, memicu kekhawatiran para pendidik dan orang tua.
Fenomena ini awalnya berkembang di grup pertemanan informal, namun perlahan merambah ke lingkungan sekolah. Sejumlah guru melaporkan adanya siswa laki-laki yang mulai berdandan, memakai aksesori khas perempuan, dan berbicara dengan gestur yang dilebih-lebihkan di dalam kelas maupun saat jam istirahat.
“Dulu hanya di luar sekolah, sekarang di dalam kelas pun ada yang seperti itu. Teman-temannya sudah menganggap biasa,” ujar seorang guru di salah satu SMP Negeri di Sampit yang enggan disebut namanya.
Para pengamat sosial di Kotawaringin Timur menilai keterbukaan ini dipicu oleh derasnya konten media sosial yang menampilkan gaya hidup dan ekspresi gender nonkonvensional. Remaja laki-laki dengan mudah mengakses konten dari berbagai platform tanpa filter, dan sebagian meniru apa yang mereka lihat sebagai bentuk identitas diri.
“Mereka mencari validasi dari teman sebaya. Ketika lingkungan pertemanan mendukung, perilaku itu makin diperkuat,” kata seorang psikolog dari Dinas Pendidikan setempat.
Beberapa sekolah di Sampit mengaku sudah memberikan teguran lisan kepada siswa yang menunjukkan perilaku tersebut. Namun, tidak semua sekolah memiliki panduan khusus untuk menangani kasus ini. Sebagian guru memilih pendekatan persuasif dengan memanggil orang tua siswa untuk berdiskusi.
“Kami tidak bisa langsung menghakimi. Tapi kami juga tidak boleh diam. Ini soal masa depan anak,” ujar Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan di salah satu SMA di Sampit.
Orang tua diimbau untuk lebih aktif memantau pergaulan anak dan konten digital yang mereka konsumsi. Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur disebut akan menggelar pertemuan dengan para guru BK dan komite sekolah untuk membahas fenomena ini secara lebih serius.
Fenomena boti di Sampit bukan lagi sekadar tren sementara. Tanpa pendampingan yang tepat, perilaku ini bisa mempengaruhi perkembangan psikologis dan sosial remaja dalam jangka panjang.