KALIMANTAN TENGAH — Layanan seperti Google Drive, iCloud, dan Dropbox memang memudahkan akses file kapan saja tanpa perlu membawa harddisk eksternal. Tapi kemudahan ini sering membuat pengguna lalai. Padahal, beberapa kesalahan umum bisa mengancam keamanan data pribadi jika tidak segera diperbaiki.
Banyak orang punya lebih dari satu alamat surel, dan tidak semuanya dibuka setiap hari. Jika alamat yang jarang digunakan itu terdaftar di akun cloud storage, pengguna bisa melewatkan pemberitahuan penting.
Penyedia layanan biasanya mengirim notifikasi lewat email saat kapasitas penyimpanan hampir penuh. Jika diabaikan, proses backup otomatis akan berhenti. Akibatnya, file baru—seperti foto dokumentasi atau data kerja—bisa hilang jika perangkat rusak sebelum sempat dipindahkan.
Selain itu, peringatan soal perubahan harga paket atau upaya login mencurigakan juga hanya dikirim ke email. Melewatkan notifikasi ini sama saja membiarkan celah bagi peretas.
Kesalahan paling berbahaya adalah menyimpan data sensitif seperti nomor NPWP, laporan pajak, atau rekam medis di server pihak ketiga. Google, Apple, dan Microsoft memang punya sistem keamanan berlapis, tapi bukan berarti data Anda kebal dari kebocoran.
Risiko terbesar justru datang dari pengguna sendiri: kata sandi yang lemah, perangkat yang tidak terkunci, atau jebakan phishing. Jika data ini jatuh ke tangan kriminal, identitas Anda bisa dipalsukan untuk pinjaman online ilegal atau transaksi palsu.
Solusinya sederhana: simpan dokumen semacam itu di harddisk lokal yang tidak terhubung internet. Jika tetap ingin menyimpannya di cloud, enkripsi file sebelum diunggah menggunakan aplikasi seperti VeraCrypt atau 7-Zip.
Fitur sinkronisasi otomatis memang praktis. Namun, mengaktifkannya untuk semua folder tanpa filter bisa menjadi bumerang. File sampah, duplikat foto, hingga unduhan aplikasi yang tidak penting ikut terunggah, menghabiskan kuota penyimpanan.
Lebih kritis lagi, jika perangkat Anda terinfeksi ransomware, malware bisa langsung menyinkronkan file yang telah dienkripsi ke cloud. Alih-alih menjadi penyelamat, cloud storage justru menjadi tempat penyebaran virus ke perangkat lain yang terhubung ke akun yang sama.
Pilih folder mana yang benar-benar perlu di-backup. Matikan sinkronisasi untuk folder "Downloads" atau "Temp" yang isinya terus berganti.
Banyak pengguna di Indonesia masih mengandalkan kata sandi sederhana dan tidak mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA). Ini seperti mengunci rumah dengan gembok plastik.
Aktifkan 2FA di setiap akun cloud storage. Gunakan aplikasi authenticator seperti Google Authenticator atau Microsoft Authenticator, bukan SMS yang bisa dicegat. Jangan pernah menggunakan kata sandi yang sama untuk akun cloud dengan akun media sosial atau email.
Fitur berbagi file (share) memang berguna untuk kolaborasi. Tapi seringkali tautan yang sudah tidak dipakai masih aktif, atau izin akses diberikan ke orang yang sudah tidak bekerja sama.
Luangkan waktu setiap bulan untuk memeriksa daftar file yang dibagikan. Cabut akses untuk tautan yang tidak diperlukan. Di Google Drive, fitur ini bisa diakses lewat menu "Manage Shared Drives" atau "Shared with Me".