Harga Emas Spot Naik Tipis 0,1% ke USD4.547, Setelah Sempat Terjun Bebas 1% di Awal Sesi

Penulis: Puguh Triyono  •  Jumat, 22 Mei 2026 | 08:10:07 WIB
Harga emas spot naik tipis 0,1% ke USD4.547 per ons setelah penurunan tajam di awal sesi.

KALIMANTAN TENGAH — Pasar logam mulia kembali menunjukkan pergerakan yang penuh tekanan. Harga emas spot tercatat naik tipis 0,1% ke posisi USD4.547,54 per ons pada pukul 01.04 WIB, setelah sebelumnya terseret turun cukup dalam. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni justru ditutup melemah 0,1% ke USD4.542,50 per ons.

Minyak dan Dolar Jadi Dua Sisi Mata Uang yang Saling Tarik

Pergerakan harga minyak menjadi elemen dominan yang ikut menggerakkan harga emas. Dalam sesi yang sangat fluktuatif, minyak sempat bergerak liar sebelum akhirnya melemah. Penyebabnya masih sama: belum ada titik terang penyelesaian konflik antara AS, Israel, dan Iran yang mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Di sisi lain, dolar AS mulai memangkas penguatannya. Indeks dolar yang sebelumnya berada di level tertinggi enam pekan perlahan turun, membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi greenback menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga turun 0,2%, mengurangi biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.

“Koreksi harga minyak dan pelemahan dolar dari level tertinggi enam pekan menjadi sentimen konstruktif bagi logam kuning dalam jangka pendek,” ujar Vice President Zaner Metals, Peter Grant.

Konflik Geopolitik Belum Usai, Investor Masih Pasang Kuda-kuda

Kendati ada angin segar dari pelemahan dolar, Grant menilai pasar masih dibayangi sikap hati-hati. Investor belum sepenuhnya yakin karena berbagai upaya perundingan sebelumnya kerap gagal menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama. Sejak perang meletus pada akhir Februari, harga emas tercatat telah merosot lebih dari 14%.

Konflik ini mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga energi global dan memperbesar kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dunia. Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan kenaikan harga minyak yang mendorong inflasi lebih tinggi membuat bank sentral berada di bawah tekanan untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali menaikkannya.

“Situasi itu masih menjadi penghambat utama penguatan emas dalam waktu dekat,” kata Staunovo.

Suku Bunga Tinggi: Musuh Lama Emas yang Kembali Mengintai

Walaupun selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, emas umumnya kesulitan mencatat reli besar pada periode suku bunga tinggi. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih menarik, seperti obligasi atau deposito.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 58% bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026. Probabilitas tersebut meningkat dibandingkan 48% sehari sebelumnya, berdasarkan data FedWatch Tool milik CME Group. Artinya, tekanan terhadap emas masih akan berlanjut dalam jangka menengah.

Logam mulia lainnya justru mencatat penguatan. Harga perak spot naik 0,9% menjadi USD76,63 per ons. Platinum bertambah 0,6% ke level USD1.962 per ons, sementara paladium melonjak 1,1% menjadi USD1.384,50 per ons. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor mulai melirik logam industri di tengah ketidakpastian harga emas.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: kabarbursa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top