Perum Bulog Kantor Wilayah Kalimantan Tengah menargetkan penyaluran bantuan pangan Presiden ke seluruh penerima di provinsi itu tuntas 100 persen hingga akhir September 2026. Sebanyak 212 ribu penerima manfaat kini terdaftar, naik dari sebelumnya sekitar 207 ribu orang. Daerah terpencil di Kabupaten Katingan dan Gunung Mas menjadi prioritas karena akses sungai yang mengering akibat kemarau.
PALANGKA RAYA — Pemimpin Wilayah Bulog Kalteng Erwin Budiana menyatakan pihaknya mendahulukan wilayah yang paling sulit dijangkau dalam penyaluran bantuan pangan Presiden. Strategi itu diambil karena sejumlah daerah menghadapi kendala geografis dan transportasi, terutama setelah musim kemarau membuat debit air sungai menyusut drastis.
"Kami prioritaskan untuk daerah-daerah yang sulit terlebih dahulu, daerah-daerah yang terjauh," kata Erwin saat meninjau penyaluran bantuan pangan di Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya, Jumat.
Kabupaten Katingan dan Gunung Mas menjadi contoh daerah yang terdampak paling serius. Jalur sungai yang selama ini menjadi urat nadi pengangkutan bantuan menggunakan klotok atau perahu kini tidak bisa dilalui secara optimal.
"Yang biasanya kami salurkan menggunakan klotok atau perahu, sekarang ada sungai yang kering. Jadi memang perlu upaya lebih dan membutuhkan waktu yang lebih lama," ujar Erwin.
Bulog menyiapkan sejumlah moda alternatif. Di wilayah yang sungainya benar-benar kering, bantuan diangkut memakai kendaraan roda dua secara bertahap. Sementara di sungai yang masih memiliki sedikit aliran air, pengangkutan tetap dilakukan dengan perahu berkapasitas jauh lebih kecil.
"Kalau biasanya satu sampai dua ton bisa dibawa menggunakan klotok, sekarang paling hanya 100 sampai 200 kilogram. Jadi harus bolak-balik dan waktunya lebih lama," ujarnya.
Jumlah penerima bantuan pangan di Kalimantan Tengah mengalami penambahan. Dari sebelumnya sekitar 207 ribu penerima, kini menjadi sekitar 212 ribu orang.
Setiap penerima memperoleh beras medium sebanyak 10 kilogram per bulan. Pada penyaluran kali ini, bantuan diberikan sekaligus untuk tiga alokasi — Juli, Agustus, dan September — sehingga masing-masing penerima mendapat total 30 kilogram beras.
Penerima bantuan ditetapkan berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang bersumber dari data pemerintah dan digunakan melalui Badan Pangan Nasional sebagai dasar penyaluran.
Erwin optimistis seluruh bantuan pangan di Kalteng dapat diselesaikan sesuai target pada September. Meski demikian, ia mengakui kondisi geografis dan kemarau berkepanjangan membuat proses distribusi membutuhkan waktu lebih panjang dari biasanya.
Perpanjangan musim kemarau yang membuat sungai-sungai di pedalaman Kalteng mengering menjadi persoalan tersendiri bagi wilayah yang selama ini mengandalkan transportasi air. Bulog menyatakan terus memantau kondisi lapangan untuk memastikan bantuan sampai ke tangan penerima tepat waktu.