KALIMANTAN TENGAH — Gelombang udara panas menjelang akhir musim panas membuat acara kumpul di halaman belakang makin sering digelar. Saat pesta ulang tahun pada hari terpanas tahun ini, stok es batu di rumah habis total. Mesin pembuat es portabel CASO IceChef Compact pun dipakai menguji klaim pendinginannya secara langsung.
Perangkat ini memproduksi nugget es segar sesuai permintaan dalam enam menit, dengan kapasitas 500 gram per jam. Bagi pengguna Indonesia yang biasa beli es kristal di warung, mesin ini menawarkan jalur alternatif tanpa harus keluar rumah saat tamu berdatangan.
Menyiapkan mesin ini tidak rumit. Isi tangki air, pilih mode es kecil atau besar, lalu tekan tombol start. Panel sentuh akan memberi notifikasi saat keranjang es penuh atau air perlu ditambah.
Dalam pengujian, mesin langsung menjatuhkan kumpulan nugget es pertama ke keranjang koleksi dalam waktu enam menit. Keranjang penuh terisi dalam waktu kurang dari 40 menit. Pengguna bisa mengangkat keranjang es atau memakai scoop mini untuk menuang es langsung ke gelas tamu.
Mesin ini memangkas waktu dan biaya karena tidak perlu membeli kantong es di toko. Fungsi self-cleaning dan tray es yang bisa dilepas membuat perawatan harian lebih ringkas.
Satu keluhan utama adalah suara mesin yang cukup berisik saat bekerja penuh. Dalam situasi pesta dengan musik dan obrolan ramai, kebisingan ini tertutup. Namun untuk pemakaian di apartemen mungil atau saat malam hari, tingkat kebisingannya bisa terasa mengganggu.
Konsumsi listrik per sekali pakai juga tidak dijelaskan secara rinci. Pengguna yang ingin menghitung dampaknya ke tagihan bulanan sebaiknya memeriksa spesifikasi watt di kemasan resmi.
Mesin ini paling masuk akal untuk pemilik rumah yang rutin menggelar barbekyu, arisan, atau acara kumpul keluarga. Untuk kebutuhan harian satu-dua gelas, cetakan es batu konvensional di freezer masih lebih hemat tempat dan listrik.
Namun sebagai perangkat siaga saat stok es mendadak habis, CASO IceChef Compact layak disimpan di gudang. Harganya yang kini di bawah 70 dolar AS membuatnya masuk akal sebagai pembelian musiman, terutama menjelang musim kemarau panjang di Indonesia.