KALIMANTAN TENGAH — Duka mendalam menyelimuti industri hiburan global. Dolly Parton, perempuan yang identik dengan rambut pirang dan lagu-lagu country abadi, telah berpulang. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan lubang besar di hati para penggemar, tetapi juga bagi rekan-rekan sejawat yang mengenalnya sebagai sosok visioner dan sahabat setia.
Menjelang tengah malam waktu setempat, tepatnya pada Selasa (25/8) pukul 21.25, gedung pencakar langit paling terkenal di New York itu berubah menjadi lautan warna merah muda. Pihak Empire State Building menyebut pencahayaan spesial ini sebagai penghormatan untuk "ikon budaya global" yang kariernya membentang selama tujuh dekade.
Pemilihan waktu penyalaan lampu bukanlah tanpa alasan. Angka 21.25 atau 9.25 malam waktu setempat merupakan referensi langsung pada film komedi ikonik '9 to 5' yang dibintangi Parton pada 1980. Film tersebut juga melahirkan lagu hit dengan judul yang sama, yang hingga kini masih relevan sebagai anthem para pekerja kantoran.
Selain '9 to 5', warisan musikal Parton juga mencakup tembang abadi seperti 'Jolene', 'Coat of Many Colors', dan 'I Will Always Love You'. Lagu terakhir tersebut bahkan berhasil melambungkan nama Whitney Houston di era 90-an, membuktikan kekuatan tulisan Parton yang melampaui genre.
Di layar lebar, Parton juga meninggalkan jejak yang tak terlupakan. Ia tampil memukau dalam film 'Steel Magnolias' dan 'Straight Talk'. Generasi muda mungkin lebih mengenalnya sebagai sosok Aunt Dolly di serial Disney Channel 'Hannah Montana', di mana ia beradu peran dengan putri baptisnya, Miley Cyrus.
Di luar panggung hiburan, kontribusi sosialnya sama besarnya dengan kariernya. Melalui Dollywood Foundation dan program Imagination Library, ia telah mendistribusikan ratusan juta buku untuk anak-anak di berbagai belahan dunia. Aksi nyata ini membuktikan bahwa kepeduliannya pada pendidikan adalah warisan yang tak kalah berharga dari deretan Grammy Awards—sebanyak 11 piala—yang pernah ia bawa pulang.
Kepergian Parton memicu gelombang belasungkawa dari berbagai kalangan. Lily Tomlin, lawan mainnya di film '9 to 5', hanya mampu menuliskan kalimat singkat penuh emosi di media sosial. "Tidak ada kata-kata..." tulis Tomlin.
Sementara itu, Jane Fonda yang juga merupakan sahabat dekatnya memberikan penghormatan panjang. Fonda mengenang Parton bukan hanya sebagai penulis lirik dan pemain alat musik, tetapi juga sebagai pribadi yang jenaka dan mampu memahami orang lain hingga ke sisi terdalam.
Ucapan duka turut mengalir dari Beyonce, Taylor Swift, hingga mantan Presiden AS Barack Obama. "Sulit untuk membayangkan ada sosok yang dapat memberi dampak besar seperti Dolly Parton," tulis Obama di akun Instagramnya. Atas arahan Presiden Donald Trump, bendera di Gedung Putih pun diturunkan setengah tiang sebagai bentuk penghormatan negara.
Tim publisitas Parton mengonfirmasi bahwa prosesi pemakaman akan digelar secara tertutup. Upacara kecil dan privat tersebut hanya akan dihadiri oleh keluarga inti, sesuai dengan permintaan terakhir sang legenda sebelum mengembuskan napas terakhirnya.
Kepergian Dolly Parton di usia 80 tahun memang menutup satu babak besar dalam sejarah musik Amerika, namun melodi dan cerita yang ia tinggalkan akan terus hidup melampaui generasi.