KALIMANTAN TENGAH — Peristiwa itu terjadi pada Senin (10/8/2026) malam sekitar pukul 20.10 WITA. Api dengan cepat membakar kawasan yang didominasi bangunan semi permanen tersebut sebelum akhirnya berhasil dijinakkan oleh petugas pemadam kebakaran.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengungkapkan data asesmen awal menunjukkan dampak yang signifikan terhadap kelompok rentan. Sebanyak 63 warga terdampak adalah anak-anak, 30 di antaranya balita, 11 lansia, dan satu ibu hamil.
"Dari 245 jiwa yang terdampak, 63 di antaranya adalah anak-anak, 30 balita, 11 lansia, serta seorang ibu hamil," sebutnya kepada wartawan, Selasa (11/8/2026).
Dua warga lainnya dilaporkan mengalami luka ringan. Hingga asesmen awal rampung, belum ada laporan korban meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Fadli merinci, sebanyak 20 rumah terdampak berada di RT 03/RW 04, sementara 17 rumah lainnya berada di RT 04/RW 04. Pendataan ini dilakukan setelah kondisi di lokasi mulai memungkinkan untuk diakses tim gabungan.
"Setelah api berhasil dikendalikan, fokus kami adalah memastikan kondisi warga, melakukan asesmen kerusakan dan mendata kebutuhan mendesak, terutama bagi anak-anak, balita, lansia dan kelompok rentan," ujarnya.
BPBD mengidentifikasi sejumlah kebutuhan awal warga seperti terpal, baby kit, family kit, first aid kit, pakaian, sarung, dan selimut. Proses evakuasi dan penanganan darurat melibatkan puluhan armada Damkar Makassar, TNI, Polri, Tagana, TBM, dan PMI Kota Makassar.
Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Dugaan awal mengarah pada korsleting listrik, namun masih memerlukan identifikasi lebih lanjut untuk memastikan sumber api.
Fadli menegaskan bahwa penanganan terhadap warga tidak berhenti setelah api padam. Pemerintah daerah berkomitmen hadir pada fase pemulihan dengan melakukan asesmen lanjutan guna menentukan kebutuhan logistik hingga langkah rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga.
"Api memang sudah padam, tetapi bagi warga terdampak, persoalan belum selesai. Pemerintah harus hadir pada fase pemulihan. Kami akan melihat apa yang paling mendesak dan apa yang dibutuhkan untuk mempercepat recovery warga," kata Fadli.
Selain kebutuhan fisik, BPBD juga akan memetakan kebutuhan layanan dukungan psikososial atau trauma healing. Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak dan kelompok rentan yang menyaksikan langsung peristiwa kebakaran.
Data yang dirilis BPBD Makassar saat ini masih bersifat sementara dan dapat diperbarui berdasarkan hasil asesmen lanjutan di lapangan. Tim gabungan akan terus bekerja untuk memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.