Satu Balita Tewas Akibat Diare di Kotawaringin Timur, Dinkes Ingatkan Bahaya Penanganan Terlambat

Penulis: Puguh Triyono  •  Selasa, 21 Juli 2026 | 18:29:31 WIB
Balita di Kotawaringin Timur meninggal dunia akibat diare yang terlambat mendapatkan penanganan medis.

SAMPIT — Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengungkapkan bahwa kasus tersebut terjadi sebelum musim kemarau tiba. Keterlambatan penanganan menjadi faktor utama yang menyebabkan korban tidak tertolong.

“Tahun ini ada satu meninggal karena diare. Kasusnya di Mentaya Hulu. Penyebab utamanya karena terlambat mendapatkan pertolongan,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Diare Bisa Sebabkan Kematian Akibat Dehidrasi Berat

Nugroho menjelaskan, diare menyebabkan tubuh kehilangan cairan dalam waktu singkat. Jika cairan tidak segera diganti, penderita akan mengalami dehidrasi yang berujung pada kematian.

“Diare berkembang sangat cepat. Saat cairan tubuh sudah banyak hilang, meskipun sudah diberikan infus kadang tidak bisa tertolong karena dehidrasinya sudah berat,” tambahnya.

Seluruh kelompok usia berisiko mengalami diare. Namun, bayi dan balita menjadi yang paling rentan karena cenderung tidak mau makan, sulit menyampaikan keluhan, serta lebih cepat mengalami kekurangan cairan.

Mitos di Masyarakat Masih Jadi Kendala Penanganan

Dinkes Kotim menyoroti masih adanya kepercayaan terhadap mitos yang menyebabkan penanganan pasien menjadi terlambat. Sebagian keluarga masih memilih pengobatan tradisional sebelum membawa anak ke puskesmas atau rumah sakit.

“Sebagian masyarakat sudah sadar dan cepat menolongnya. Tetapi masih ada yang mengikuti pengobatan kampung atau menunggu orang tua sehingga pertolongannya menjadi terlambat,” terang Nugroho.

Salah satu mitos yang masih berkembang adalah anggapan bahwa diare pada bayi merupakan pertanda anak akan mulai berjalan, sehingga dianggap tidak perlu mendapatkan penanganan medis.

Imbauan: Jangan Tunda, Segera ke Faskes

Dinkes mengimbau masyarakat untuk segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan apabila mengalami diare. Kondisi ini perlu diwaspadai terutama jika buang air besar cair terjadi berulang, disertai muntah atau tanda-tanda kekurangan cairan.

“Jangan menunggu sampai kondisinya berat. Penanganan sedini mungkin menjadi kunci untuk mencegah dehidrasi dan menyelamatkan nyawa penderita,” tegasnya.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: tintaborneo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top