Sundar Pichai Diboikot Mahasiswa Stanford saat Wisuda karena Kontrak AI Google dengan Militer Israel

Penulis: Puguh Triyono  •  Selasa, 16 Juni 2026 | 09:37:01 WIB
Mahasiswa Stanford memboikot pidato Sundar Pichai terkait kontrak AI Google dengan militer Israel.

Protes berlangsung di Stanford Stadium, tempat Pichai—alumnus program master teknik material universitas tersebut—memberikan pidato. Para mahasiswa mengangkat spanduk bertuliskan "ICE SPIES WITH GOOGLE AI" dan "GENOCIDE RUNS ON GOOGLE," serta meneriakkan "free Palestine" sambil mengibarkan bendera Palestina. Dalam pernyataan resmi, pengunjuk rasa menegaskan bahwa mereka menolak memuliakan korporasi yang dianggap "memasok bahan bakar kekerasan ini."

Bukan Sekadar Protes AI, tapi Bisnis Perang

Pichai bukan korban pertama dari gelombang penolakan terhadap hype AI di kampus-kampus AS. Namun, protes di Stanford ini unik karena fokusnya bukan pada ketakutan mahasiswa akan AI yang merebut pekerjaan mereka, melainkan pada keputusan bisnis spesifik yang diambil Google. Target utama mahasiswa adalah Project Nimbus, kontrak bersama Amazon yang menyediakan infrastruktur cloud dan kecerdasan buatan untuk militer Israel.

Google juga dikritik karena hubungannya dengan U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE), yang menggunakan teknologi AI perusahaan untuk keperluan pengawasan imigran. "Kami berjalan keluar karena kami menolak untuk mengagungkan korporasi yang mendorong kekerasan ini," demikian bunyi pernyataan protes yang diorganisir oleh Stanford Students for Justice in Palestine, No Tech for Apartheid, dan Tech for Liberation.

Dari Dalam Google: Pemecatan hingga Tekanan Publik

Protes di Stanford hanyalah puncak gunung es dari ketegangan yang sudah lama membara di internal Google. Tahun lalu, perusahaan memecat 28 karyawan yang memprotes kontrak yang sama. Tekanan dari luar pun terus berdatangan. Electronic Frontier Foundation (EFF) baru-baru ini mengecam Google dan perusahaan teknologi lain karena "memilih untuk berpaling" dari penggunaan layanan mereka oleh militer Israel.

Sementara itu, Microsoft juga mendapat sorotan serupa. Bedanya, Microsoft membatasi penggunaan teknologinya oleh pemerintah Israel setelah investigasi menemukan bahwa layanan cloud-nya digunakan untuk melakukan pengawasan massal terhadap warga Palestina. Langkah ini belum diikuti oleh Google maupun Amazon.

Tanggapan Bos VC: "Protes Itu Egois dan Bodoh"

Reaksi dari kalangan elit Silicon Valley tidak kalah keras. Vinod Khosla, miliarder pendiri Sun Microsystems sekaligus venture capitalist paling berpengaruh, menyebut protes mahasiswa itu sebagai "bias, bodoh, picik, dan sangat egois." Menurutnya, para mahasiswa mengabaikan 3 miliar orang di planet ini yang bisa mendapat manfaat dari AI.

Namun, bagi mahasiswa yang berjalan keluar, argumen tersebut tidak mengubah fakta bahwa teknologi yang mereka tolak digunakan dalam konflik bersenjata yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil. Protes ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya skeptis terhadap janji-janji AI, tetapi juga secara aktif menolak model bisnis yang mendukung operasi militer kontroversial.

Hingga berita ini ditulis, Google belum memberikan tanggapan resmi atas aksi boikot di Stanford.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top