SAMPIT — Momen takbir berkumandang di Masjid Agung Sampit, pagi Iduladha, tidak hanya menjadi penanda dimulainya shalat. Bagi ribuan jamaah yang memadati halaman masjid, khutbah yang disampaikan KH Abdullah menjadi pengingat bahwa ibadah kurban memiliki dimensi spiritual yang dalam, bukan sekadar ritual tahunan.
Dalam khutbahnya, KH Abdullah menekankan bahwa setiap tetes darah hewan kurban memiliki nilai tersendiri di sisi Allah. Ia mengajak jamaah untuk tidak hanya fokus pada prosesi pemotongan hewan, tetapi juga pada esensi ketakwaan yang melatarbelakanginya.
"Kurban mengajarkan kita tentang kepasrahan total kepada Allah, sebagaimana keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail," ujar KH Abdullah di hadapan jamaah.
Menurut khatib, keutamaan berkurban tidak akan diraih maksimal jika niat hanya sekadar menggugurkan kewajiban sosial. Ia mengingatkan bahwa ibadah ini menjadi cerminan sejauh mana seorang hamba mampu mengorbankan sesuatu yang dicintainya demi perintah Sang Pencipta.
KH Abdullah juga menyoroti pentingnya menjaga adab saat menyembelih dan mendistribusikan daging kurban. Ia berharap distribusi tepat sasaran bisa memperkuat rasa kebersamaan antarwarga di Sampit dan sekitarnya.
Di akhir khutbah, khatib memanjatkan doa agar seluruh amal ibadah jamaah diterima Allah. Ia berharap semangat Iduladha kali ini mampu mendorong warga Kotawaringin Timur untuk terus memperkuat silaturahmi dan kepedulian sosial.
Suasana khidmat pun menyelimuti kompleks Masjid Agung Sampit. Selepas shalat, sejumlah jamaah terlihat bersalaman dan saling bermaafan sebelum pulang ke rumah masing-masing untuk merayakan hari raya bersama keluarga.