KALIMANTAN TENGAH — Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2024, penyusutan kas WIKA bahkan lebih tajam. Dalam kurun waktu sekitar satu tahun, saldo kas perseroan ambles 56,5 persen dari Rp3,36 triliun pada Desember 2024 menjadi hanya Rp1,46 triliun pada Maret 2026. Penurunan ini menjadi perhatian investor dan kreditur, mengingat perusahaan sedang dalam proses penjadwalan ulang kewajiban keuangannya.
Tak hanya kas bebas, saldo bank yang dibatasi penggunaannya (restricted cash) juga mengalami penurunan signifikan. Per 31 Maret 2026, pos ini tercatat hanya sebesar Rp74,94 miliar, anjlok dari Rp450,12 miliar pada akhir 2025. Angka ini bahkan merosot 81,17 persen dibandingkan posisi akhir 2024 yang mencapai Rp2,39 triliun.
Saldo bank terbatas biasanya digunakan untuk menjamin proyek atau kewajiban tertentu. Penurunan tajam pada pos ini mengindikasikan bahwa sejumlah proyek mungkin telah rampung atau dana jaminan telah dicairkan untuk menambal kebutuhan likuiditas operasional.
Penurunan kas yang berkelanjutan ini menjadi indikator tekanan likuiditas yang masih membayangi WIKA. Perusahaan BUMN konstruksi ini diketahui tengah menjalani restrukturisasi utang, baik dengan perbankan maupun pemegang obligasi, untuk memperbaiki struktur permodalan dan memperpanjang jatuh tempo kewajiban.
Proses restrukturisasi biasanya membutuhkan pembayaran-pembayaran awal atau setoran dana jaminan yang cukup besar, yang bisa menjelaskan mengapa kas terus tergerus. Namun, tanpa arus kas masuk yang kuat dari proyek baru atau penagihan piutang, kondisi ini bisa memperpanjang masa pemulihan keuangan perseroan.
WIKA masih harus berjuang untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan kreditur. Dengan kas yang terus menipis, perusahaan harus bergantung pada putaran restrukturisasi yang sukses untuk mendapatkan suntikan modal kerja atau relaksasi pembayaran. Langkah strategis seperti divestasi aset non-inti atau percepatan penagihan piutang negara menjadi krusial untuk menjaga likuiditas.
Pasar akan terus mencermati langkah manajemen WIKA dalam mengelola arus kas ke depan. Jika restrukturisasi rampung dan proyek-proyek baru mulai mengalir, likuiditas berpotensi pulih. Namun, untuk saat ini, data menunjukkan bahwa perusahaan masih berada dalam fase konsolidasi keuangan yang ketat.