PURUK CAHU — Nama Alm. Ibung Bangas mungkin tak setenar tokoh perjuangan nasional lainnya. Namun, perannya dalam mendirikan Gerakan Revolusi Rakyat Indonesia (GRRI) bersama Pieter K. Sawong menjadi bukti bahwa perlawanan terhadap kolonialisme juga bergolak kuat di pedalaman Kalimantan Tengah.
Ibung Bangas adalah pemuda Suku Dayak Ngaju yang tercatat sebagai pelopor FUSU TJO GAKKO dari Taman Siswa. Bersama Pieter K. Sawong, ia mendapat mandat untuk membentuk GP3 (Gerakan Pelopor Penegak Proklamasi). Mandat ini menjadi cikal bakal lahirnya perlawanan terorganisir di Dayak Besar.
Rapat pertama digelar pada 12 Desember 1945 di kediaman J.M. Nahan. Hadir dalam pertemuan itu Pieter K. Sawong, Sikur Patus, Timmerman Brahim, dan J.M. Nahan sendiri. Hasilnya: GP3 resmi dibentuk dan segera merekrut pemuda-pemuda Dayak. Nama-nama seperti M. Yunus, Atak Dillah, Amat Benyamin Amei, Batara Linggar, Ady Suryadi, Christoffel Binti, dan JP. Ngampun tercatat sebagai responden awal gerakan ini.
Setelah GP3 berjalan, pada 21 Juli 1946, sekitar 20 pemuda Dayak kembali menggelar rapat. Kali ini tujuannya lebih tegas: membentuk organisasi perlawanan terhadap Belanda. Organisasi itu diberi nama Gerakan Revolusi Rakyat Indonesia (GRRI).
Hingga akhirnya, pada 21 Maret 1947, lima badan pejuang—GP3, Laskar Kilat, Laskar Merah Putih, Katraco, dan lainnya—melebur menjadi satu komando di bawah GRRI. Langkah ini memperkuat daya tempur dan koordinasi perlawanan di wilayah Dayak Besar.
GRRI tak hanya bergerak di lapangan. Panglima Gerilya Markas Besar Tentara GRRI mengeluarkan tiga maklumat penting. Pertama, seluruh pasukan diminta menyerahkan senjata ke GRRI paling lambat 19 Desember 1948. Kedua, GRRI memegang kekuasaan atas Pemerintahan Dayak Besar bentukan NICA. Ketiga, seluruh pasukan GRRI harus dalam kondisi siap tempur setiap saat.
Pada 2 Desember 1948, rapat rahasia digelar di Bukit Ngalangkang. Hadir Pieter K. Sawong, Ibung Bangas, A. Sendol Ranggan, Siang Hinting, Amberi Lihi, Itakri Tueng, dan Anang Aini. Rapat ini memutuskan dua hal krusial: Pieter K. Sawong sebagai pimpinan GRRI dan Ibung Bangas sebagai wakilnya, serta rencana rapat raksasa di Kota Tewah pada 20 Desember 1948.
Tanggal 20 Desember 1948 menjadi puncak perjuangan. Rakyat Dayak Besar, dengan pakaian dan peci hitam, memadati Lapangan Tewah. Pieter K. Sawong bertindak sebagai inspektur upacara, sementara Ibung Bangas menjadi komandan upacara. Suasana khidmat menyelimuti pengibaran Sang Merah Putih.
Setelah membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pieter K. Sawong membacakan Proklamasi Pemerintahan GRRI. Isinya menegaskan berdirinya pemerintahan GRRI Bukit Ngalangkang Dayak Besar yang wilayah kekuasaannya meliputi seluruh daerah Dewan Dayak NICA. Teks proklamasi itu ditutup dengan kalimat: "Perjuangan akan dilakukan hingga tetes darah yang penghabisan sampai Indonesia Merdeka."
Kisah perjuangan Ibung Bangas dan GRRI kini kembali diangkat oleh pegiat sejarah seperti Pakat Dayak dan media lokal Balanganews.com. Harapannya, generasi muda Kalimantan Tengah tak melupakan bahwa perlawanan terhadap penjajah juga lahir dari jantung Pulau Borneo.