SAMPIT — Kodim 1015/Sampit mematangkan kesiapsiagaan personel dan alat material melalui latihan aplikasi teritorial sistem blok di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Langkah ini diambil sebagai respons dini terhadap prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai siklus panas ekstrem yang diperkirakan melanda wilayah Kalimantan Tengah.
Komandan Kodim (Dandim) 1015/Sampit, Letkol Inf Dwi Candra Setiawan, menjelaskan bahwa latihan ini merupakan puncak dari program standarisasi TNI Angkatan Darat. Materi pelatihan difokuskan pada simulasi penanggulangan bencana alam, khususnya penanganan karhutla yang kerap menjadi ancaman tahunan di wilayah tersebut.
"Latihan ini untuk membekali dan meningkatkan kemampuan dalam rangka kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dan mencegah, termasuk penanganan karhutla di wilayah Kodim 1015/Sampit. Sekaligus memastikan kesiapsiagaan personel dan alat perlengkapan," kata Dwi Candra di Sampit, Kamis.
Dandim menegaskan bahwa kerawanan kebakaran di Kotawaringin Timur memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak. Berdasarkan data prakiraan cuaca, terdapat potensi munculnya fenomena Godzilla El Nino yang diperkirakan terjadi pada akhir 2026 hingga mencapai puncaknya pada siklus 2027.
Antisipasi dini melalui penguatan koordinasi dianggap krusial agar seluruh elemen, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat, tidak terkejut saat fenomena alam tersebut terjadi. Dwi Candra meminta prajuritnya aktif memberikan edukasi kepada warga dan perusahaan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Jadi, apabila fenomena itu terjadi kita semua, baik dari TNI, Polri, Pemda, masyarakat maupun perusahaan swasta semuanya siap untuk menghadapi, mengantisipasi termasuk jika itu terjadi kita dapat menanggulangi," tambahnya.
Latihan gabungan ini tidak hanya mengandalkan kekuatan militer dari Kodim 1015/Sampit dan Yonif TP 923 Mentaya, tetapi juga menggandeng BPBD Kotim dan Manggala Agni Pondok Kerja Sampit. Selain instansi pemerintah, enam perusahaan swasta di sektor perkebunan dan sumber daya alam turut dilibatkan dalam simulasi ini.
Perusahaan yang berpartisipasi meliputi PT Baratama Putra Perkasa, PT Siemon Agro, PT Ocean Bagus Jaya, PT Borneo Ikhsan Sejahtera, PT Ceria Karya Pranawa, dan PT Ocean Bagus Jaya. Keterlibatan dunia usaha dinilai penting karena mereka memiliki personel dan peralatan standar penanganan di area konsesi.
"Dalam menanggulangi kebakaran hutan apalagi kami bagian kecil dari masyarakat, ini tidak mungkin sendiri. Kita harus bersama memang, bahu-membahu," ujar Direktur Utama Ocean Bagus Jaya, Sudiono. Ia memastikan internal perusahaannya telah memenuhi persyaratan pemerintah terkait menara api dan patroli rutin.
Simulasi lapangan dilaksanakan di area panahan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 2,5 Sampit. Dalam latihan tersebut, peserta mempraktikkan tiga tahapan utama penanganan bencana. Tahap pertama adalah pencegahan yang mengedepankan sosialisasi dampak karhutla terhadap kesehatan dan lingkungan kepada masyarakat luas.
Tahap kedua meliputi penanganan taktis berupa respons cepat pemadaman saat titik api ditemukan serta koordinasi komunikasi lintas sektor di lapangan. Sementara tahap ketiga adalah pemulihan pasca-karhutla yang dilakukan melalui rehabilitasi lahan, reboisasi, dan pendampingan terhadap warga yang terdampak langsung.
Kodim 1015/Sampit menekankan agar perusahaan memastikan kesiapan personel dan perlengkapan pemadaman sesuai standar yang berlaku. Upaya preventif seperti larangan membuang puntung rokok sembarangan di area rawan juga terus disosialisasikan guna meminimalkan risiko kebakaran akibat kelalaian manusia.