SAMPIT — Kontingen Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini tengah berpacu dengan waktu dalam menyiapkan atlet untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Tengah 2026. Meski jadwal pelaksanaan di Kotawaringin Barat masih cukup jauh, kendala utama justru muncul dari sisi administrasi anggaran hibah yang belum kunjung turun.
KONI Kotim memproyeksikan total kebutuhan anggaran untuk ajang bergengsi tingkat provinsi tersebut mencapai Rp3 miliar. Berdasarkan koordinasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) setempat, pencairan dana rencananya akan dilakukan secara bertahap guna mendukung operasional cabang olahraga (cabor).
Tahap pertama dijadwalkan cair sebesar Rp1 miliar yang akan difokuskan untuk membiayai seleksi atlet. Alexius Esliter menjelaskan bahwa proses penganggaran sebenarnya tidak menemui kendala prinsip, namun masih menunggu terbitnya Surat Keputusan (SK) hibah dari pihak pemerintah daerah.
“Kami meminta agar anggaran ini bisa segera dicairkan karena kebutuhan cabor cukup mendesak, terutama untuk seleksi. Harapan kami paling lambat Juni sudah turun, bahkan kalau bisa Mei ini,” ujar Alexius pada Rabu, 6 Mei 2026.
Hingga saat ini, tercatat lebih dari 900 atlet telah didaftarkan untuk memperkuat kontingen Kotim. Dari total 32 cabang olahraga yang diajukan, sebanyak 29 cabor dipastikan akan dipertandingkan secara resmi, sementara tiga cabor lainnya hanya bersifat eksibisi.
Keterlambatan anggaran memaksa sejumlah cabang olahraga bergerak secara swadaya. Beberapa cabor seperti biliar, pencak silat, dan bola basket dilaporkan mampu menjalankan aktivitas pembinaan secara mandiri di tengah keterbatasan fasilitas pemusatan latihan (TC) dari KONI.
“Untuk kesiapan atlet sebenarnya siap, tinggal seleksi dan TC yang direncanakan mungkin mulai Juni nanti. Namun, dari 2025 sampai 2026 memang belum ada anggaran sama sekali, jadi TC juga terlambat. Kita banyak yang mandiri,” tambahnya.
Meski berstatus sebagai salah satu kekuatan besar di Kalimantan Tengah, KONI Kotim memilih bersikap realistis untuk edisi Porprov 2026. Minimnya waktu persiapan dan kendala finansial menjadi alasan utama mengapa pihak otoritas olahraga daerah tersebut enggan mematok target juara umum secara muluk-muluk.
Fokus utama pengurus saat ini adalah menjamin keberangkatan kontingen dan memastikan seluruh atlet bisa bertanding secara maksimal di lapangan. Mempertahankan gelar juara umum tetap menjadi harapan, namun realisasinya akan sangat bergantung pada progres latihan dalam beberapa bulan ke depan.
“Target kita tidak muluk-muluk. Yang penting kita ikut dulu. Soal hasil nanti kita lihat kondisi di lapangan. Untuk mencapainya kami tidak berani muluk-muluk karena persiapan kita sangat minim,” pungkas Alexius.