KALIMANTAN TENGAH — Danantara Indonesia menargetkan mobilisasi investasi US$ 30 miliar atau sekitar Rp 500 triliun melalui New Asia Forum (NAF) 2026 yang digelar 3-4 Desember 2026 di Bali. Forum itu dirancang mempertemukan pemilik modal global dengan proyek-proyek strategis dalam negeri. Bagi investor, ajang ini menjadi sinyal bahwa Danantara siap berperan sebagai anchor investor, bukan sekadar pengumpul dana.
Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Sjahrir menyatakan mandat Danantara Investment Management adalah menarik modal swasta dan global untuk berinvestasi bersama di sektor-sektor strategis Indonesia. New Asia Forum diposisikan sebagai kendaraan untuk mewujudkan mandat itu, dengan target komitmen modal yang bisa langsung ditindaklanjuti menjadi kesepakatan investasi.
Dalam forum tersebut, Danantara juga akan mengumumkan sejumlah komitmen modal dan investasi strategis. Langkah itu disebut untuk menunjukkan posisi Danantara sebagai anchor investor yang mampu mendorong masuknya capital berkualitas ke Indonesia.
Dua Agenda: Uji Kelayakan dan Eksekusi
NAF 2026 dibagi menjadi dua hari dengan fungsi berbeda. Pada 3 Desember, agenda Discovery & Diligence membahas kelayakan proyek, risiko, dan struktur investasi. Sehari berselang, agenda Action & Execution berfokus pada alokasi modal, penandatanganan kesepakatan, dan pelaksanaan proyek.
Pembagian itu memisahkan tahap uji tuntas dari tahap komitmen dana. Danantara menargetkan forum menghasilkan kesepakatan awal investasi atau heads of terms, skema pembiayaan komersial dan blended finance, serta mekanisme pemantauan realisasi investasi.
Delapan Sektor Prioritas
Proyek yang ditawarkan mencakup delapan sektor: sumber daya strategis dan hilirisasi, energi dan ketenagalistrikan, mobilitas dan manufaktur, infrastruktur digital dan kecerdasan buatan, pangan dan agribisnis, perdagangan dan konektivitas, pariwisata dan ekonomi kreatif, serta pendidikan dan sumber daya manusia.
Daftar itu menempatkan hilirisasi dan transisi energi sebagai dua pintu masuk utama bagi modal asing. Keduanya selama ini menyerap belanja investasi terbesar di Indonesia, terutama untuk pengolahan mineral dan pembangkit listrik.
Mengapa Modal Jangka Panjang Belum Masuk
Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara Pahala Nugraha Mansury menyoroti ketimpangan alokasi modal. Kawasan Asia-Pasifik menyumbang hampir 60% pertumbuhan ekonomi dunia, tetapi alokasi investasi jangka panjang ke kawasan itu dinilai belum sebanding dengan potensi pertumbuhannya.
"Fokus kami adalah mendorong long-term capital untuk melihat bahwa sesungguhnya terdapat banyak sekali kesempatan untuk menempatkan investasi di negara-negara Asia, karena justru di sinilah pusat gravitasi untuk pertumbuhan berada," ujar Pahala.
Pahala menambahkan, perubahan geopolitik membuat pemilik modal mencari lokasi baru. Indonesia, menurut dia, berpeluang menjadi tujuan permodalan dari China, Australia, Amerika Serikat, dan negara lain.
"Dengan perkembangan geopolitik yang ada, Indonesia bisa menjadi negara destinasi bagi permodalan dari Cina, Australia, Amerika Serikat dan negara-negara lain yang sedang mencari rumah baru," katanya.
Siapa yang Hadir
Forum ini ditargetkan dihadiri lebih dari 1.000 pemimpin global, lebih dari 100 pembicara, dan 40 sesi diskusi. Sejumlah nama yang dijadwalkan tampil antara lain Chairman dan CEO SoftBank Group Masayoshi Son, Perdana Menteri Bhutan Tshering Tobgay, CEO Freeport-McMoRan Kathleen Quirk, dan CEO State Oil Fund of Azerbaijan Israfil Mammadov.
Kehadiran Masayoshi Son dan Kathleen Quirk memberi bobot tersendiri. SoftBank dikenal agresif di sektor teknologi, sementara Freeport-McMoRan merupakan operator tambang tembaga dan emas di Papua yang selama ini menjadi mitra investasi jangka panjang di Indonesia.
Bagi Danantara, NAF 2026 menjadi ujian pertama kemampuan holding investasi negara itu mengonversi jaringan global menjadi komitmen dana riil. Target Rp 500 triliun hanya bermakna jika berlanjut menjadi pencairan proyek, bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman di atas panggung.