KALIMANTAN TENGAH — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan produksi listrik panas bumi 4.114 gigawatt hour (GWh) sepanjang Januari–September 2026, melampaui target periode itu sebesar 3.801 GWh atau setara 108,22%. Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi produksi sembilan bulan perseroan dan naik 9,8% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 3.747 GWh. Rekor ini menopang peran panas bumi sebagai salah satu tulang punggung transisi energi nasional.
Paragraf pembuka: Produksi listrik dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri itu ditopang disiplin operasional dan pemeliharaan pembangkit. Direktur Operasi PGEO Andi Joko Nugroho menyebut optimalisasi produksi serta kesiapan pasokan uap di berbagai wilayah kerja menjadi kunci di balik capaian tersebut.
Keandalan Pembangkit di Atas Target
Perusahaan menjaga keandalan pembangkit lewat pengelolaan reservoir, kesiapan fasilitas produksi, dan pemeliharaan yang lebih efisien. Langkah itu bertujuan memastikan pasokan listrik panas bumi tetap stabil dan berkelanjutan untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Hingga September 2026, Equivalent Availability Factor (EAF) kumulatif PGEO mencapai 98,51%, jauh melampaui target 92,20%. Sementara Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) tercatat 0,21%, lebih rendah dibanding batas yang direncanakan sebesar 1,48%.
Dari lima area operasi, Kamojang mencatat produksi tertinggi sebesar 1.438 GWh atau 118,77% dari target, dengan kontribusi sekitar 35% terhadap total produksi. Lumut Balai menyusul dengan 702 GWh atau 115,84% dari target, sedangkan Lahendong menghasilkan 658 GWh atau 106,44% dari target.
Fundamental Keuangan Ikut Menguat
Kinerja operasional yang solid menopang fundamental keuangan perseroan. Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat menyebut pada semester pertama 2026 pendapatan perusahaan mencapai US$ 79,61 juta, meningkat 15,48%.
PGEO juga akan memperluas akses pembiayaan dengan biaya kompetitif untuk mendukung pengembangan bisnis. Sejumlah proyek strategis perusahaan telah masuk dalam Green Book Bappenas 2026.
“Hal ini membuka peluang pendanaan konsesional (concessional financing) dari lembaga pembiayaan internasional dengan biaya modal lebih rendah, yang diharapkan meningkatkan keekonomian proyek dan daya saing investasi,” ujar Fransetya.
Perseroan tidak hanya berfokus mengamankan pendanaan, tetapi juga mengoptimalkan struktur permodalan. Keseimbangan ekuitas dan utang dijaga untuk mempertahankan profil kredit yang kuat demi nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan investor.
Kejar Target Tahunan dan Ekspansi Kapasitas
Memasuki kuartal keempat 2026, PGEO akan berfokus menjaga keandalan pembangkit untuk mengejar target produksi listrik tahunan sebesar 5.255 GWh. Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menegaskan perusahaan akan terus mendorong pertumbuhan bisnis dengan mengutamakan tata kelola yang baik, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Melalui pengelolaan aset yang optimal dan pengembangan proyek strategis, Perseroan terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi Indonesia,” kata Ahmad Yani dalam keterangannya, Senin (19/10).
Ekspansi bisnis berlanjut lewat optimalisasi aset yang ada, penambahan kapasitas pembangkit, dan pengembangan sumber pendapatan baru. Sejumlah proyek yang dikembangkan meliputi Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.
Melalui pengembangan proyek tersebut, PGEO menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.
Penutup: Rekor produksi sembilan bulan ini menempatkan PGEO di jalur yang tepat untuk menutup 2026 sesuai target tahunan. Dengan portofolio proyek yang sudah masuk Green Book Bappenas, perseroan berpeluang memperbesar porsi panas bumi dalam bauran energi nasional sekaligus menjaga daya saing investasi jangka panjang.