KALIMANTAN TENGAH — Kilang Plaju milik PT Pertamina Patra Niaga memproduksi 295.263 barel avtur sepanjang Januari-September 2026, sementara penyalurannya mencapai 261.992 barel pada periode yang sama. Capaian tersebut menjadi bagian dari peran kilang dalam menjaga ketersediaan bahan bakar penerbangan nasional.
Kilang Plaju mencatat angka produksi avtur yang lebih tinggi dibanding volume yang disalurkan ke pasar. Selisih sekitar 33.271 barel antara produksi dan lifting mencerminkan adanya volume yang masuk ke stok penyangga operasional, bukan kelebihan pasokan yang menganggur. Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Plaju, Khabibullah Khanafie, menyebut capaian itu sebagai kontribusi kilang terhadap ketersediaan energi untuk transportasi udara.
Mengapa Mutu Jadi Prioritas Utama
Avtur bukan produk yang bisa ditoleransi melenceng sedikit pun dari spesifikasi. Bahan bakar pesawat menuntut standar mutu ketat karena menyangkut keselamatan penerbangan. Karena itu, avtur yang keluar dari Kilang Plaju melewati tahapan pengolahan dan pengawasan mutu berlapis, termasuk pengujian laboratorium.
Produk baru boleh disalurkan setelah hasil uji memastikan seluruh persyaratan mutu yang berlaku terpenuhi. Pengawasan dilakukan konsisten di setiap tahap, bukan sekadar pengecekan akhir di hilir.
"Bagi kami, memastikan ketersediaan Avtur tidak hanya berfokus pada pencapaian produksi, tetapi juga memastikan setiap produk yang disalurkan memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan. Karena itu, pengawasan dilakukan secara konsisten dan menyeluruh agar Avtur yang dipasok siap mendukung kebutuhan penerbangan," ujar Khabibullah dalam keterangan tertulis, Minggu (18/10/2026).
HSSE di Setiap Tahapan Operasional
Selain keandalan proses dan kualitas produk, Kilang Plaju menempatkan aspek keselamatan, kesehatan kerja, keamanan, dan lingkungan (HSSE) sebagai fondasi operasi. Penerapan HSSE dinilai penting agar pengolahan energi berlangsung aman, andal, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar kilang.
Bagi warga di sekitar fasilitas, standar ini berdampak langsung pada kualitas hidup. Operasi kilang yang disiplin menekan risiko insiden dan pencemaran, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap aktivitas industri di kawasan mereka.
Siapa yang Merasakan Manfaatnya
Pasokan avtur dari Kilang Plaju menopang konektivitas antardaerah yang bergantung pada transportasi udara. Maskapai penerbangan, bandara, hingga pelaku usaha pariwisata dan logistik ikut merasakan dampaknya. Ketika pasokan avtur stabil, jadwal penerbangan lebih terjaga dan mobilitas masyarakat tidak terganggu.
Bagi pelaku usaha, kepastian pasokan bahan bakar pesawat berarti rantai distribusi barang antarwilayah tetap berjalan. Aktivitas ekonomi yang bergantung pada penerbangan, mulai dari pengiriman komoditas hingga sektor jasa, memperoleh kepastian operasional.
Kilang Plaju memposisikan capaian produksi ini sebagai bagian dari dukungan terhadap ketahanan energi nasional. Langkah tersebut sejalan dengan semangat Asta Cita dalam mendorong swasembada energi. Dengan penguatan keandalan operasional, konsistensi pengawasan mutu, dan penerapan HSSE, kilang ini menjaga perannya di rantai pasok avtur domestik, terutama di wilayah Sumatera bagian selatan.