SAMPIT — Kunjungan kerja Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Sampit menjadi ruang bagi relawan karhutla Kotawaringin Timur untuk menyampaikan keluhan langsung. Mereka mengaku kesulitan menjangkau titik api, terutama di lokasi yang jauh dari sumber air.
Keluhan itu disampaikan salah seorang relawan di hadapan Menhut. Ia menyebut air, peralatan, dan selang sebagai persoalan yang berulang di tingkat kelurahan.
"Kesulitan kami selama ini masalah air, terus masalah peralatan. Kalau untuk relawan di kelurahan-kelurahan, masalahnya air, peralatan, terus selang. Selangnya agak kurang panjang, jadi kami tidak bisa masuk ke dalam," ungkap relawan tersebut.
Menhut Minta Kebutuhan Peralatan Dikoordinasikan Ulang dengan Pemkab
Raja Juli Antoni meminta Bupati Kotim mendata ulang kebutuhan peralatan di kelurahan yang paling rawan karhutla. Menurutnya, kelurahan-kelurahan itu perlu jadi sasaran prioritas bantuan.
"Saya kira nanti dikoordinasikan ulang, Pak Bupati. Kelurahan-kelurahan, terutama yang memang sangat rawan karhutla, kita sasaran ke sana," ujarnya.
Menhut juga membuka peluang penambahan bantuan jika kuota yang tersedia masih kurang. Salah satu opsi yang dibahas adalah penambahan sumur bor untuk mengantisipasi karhutla.
Bantuan Presiden Rp15 Miliar dan Pengadaan Selang yang Sempat Tersendat
Kotim menerima bantuan presiden senilai Rp15 miliar. Menhut berharap dana itu digunakan maksimal, dan siap memperjuangkan dukungan tambahan secara parsial bila kebutuhan lapangan masih belum terpenuhi.
Dari sisi pemerintah daerah, Halikinnor menjelaskan keterlibatan Masyarakat Peduli Api (MPA) dan relawan desa maupun kelurahan telah diperluas. Dukungan operasional diberikan lewat APBD, termasuk untuk konsumsi dan BBM relawan.
Pengadaan peralatan sempat terkendala. Kebutuhan selang meningkat mendadak, sementara stok di pasaran lokal habis.
"Kemarin sempat tersendat kita untuk pengadaan selang. Selang ini kan dadakan, pesanan juga di sini habis. Ada sampai pesan ke Cina. Nah, ini sudah sebagian datang, termasuk mesin alkon," kata Halikinnor.
Embung dan Sumur Bor Mengering Akibat Kemarau Panjang
Persoalan air bukan hanya soal jarak ke sumber. Halikinnor melaporkan embung dan sumur bor yang disiapkan untuk pemadaman ikut mengering akibat kemarau panjang.
Kondisi itu membuat pemadaman di lokasi yang jauh dari sumber air sulit dilakukan secara maksimal. Pemerintah daerah berharap dukungan pusat memperkuat penanganan karhutla, baik melalui penambahan peralatan maupun pemadaman dari udara.