Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Kalimantan Tengah, menggerakkan dua strategi sekaligus untuk menekan angka prevalensi stunting yang tercatat 14,1 persen pada 2024. Intervensi spesifik di bidang kesehatan dipadukan dengan intervensi sensitif yang menyasar sektor ekonomi dan pangan keluarga. Langkah ini diwujudkan lewat penyaluran bantuan vitamin hingga bibit hortikultura untuk enam kelompok UPPKA di tiga kecamatan.
KUALA KURUN — Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Gunung Mas tidak lagi bertumpu pada satu sektor. Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Gumas menyatakan penanganan faktor langsung dan tidak langsung harus berjalan beriringan agar akar masalah kemiskinan ikut tersentuh.
Kepala Bapperida Gumas Yantrio Aulia menjelaskan, faktor langsung seperti kekurangan gizi kronis menjadi domain intervensi spesifik di bidang kesehatan. Sementara itu, faktor tidak langsung seperti kemiskinan membutuhkan intervensi sensitif yang melibatkan sektor ekonomi, sosial, dan pangan.
"Faktor langsung ditangani lewat intervensi spesifik di bidang kesehatan, sementara faktor tidak langsung ditangani lewat intervensi sensitif yang melibatkan sektor ekonomi, sosial dan pangan," katanya di Kuala Kurun, Senin.
Bantuan yang Disalurkan ke Masyarakat
Penjelasan tersebut menyusul pelaksanaan Kick Off Intervensi Serentak Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Gunung Mas Tahun 2026 di Taman Kota Kuala Kurun, Jumat (7/8). Bupati Gumas Jaya S Monong bersama Wakil Bupati Efrensia LP Umbing serta Ketua TP PKK Mimie Mariatie turut menyerahkan bantuan secara simbolis.
Intervensi spesifik diwujudkan melalui pemberian vitamin A, obat cacing, dan tablet tambah darah. Adapun intervensi sensitif dijalankan lewat penyaluran bibit hortikultura, bantuan sosial, dan sejumlah bantuan lainnya.
Bibit Hortikultura untuk Kendalikan Inflasi
Penyaluran bibit cabai, tomat, dan terong tidak hanya dimaksudkan sebagai langkah pencegahan stunting. Kepala Bapperida menyebut bantuan ini memiliki fungsi ganda, yakni turut membantu pengendalian inflasi daerah.
Bibit tersebut diberikan kepada enam kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) yang tersebar di Kecamatan Kurun, Tewah, dan Kahayan Hulu Utara. Kelompok penerima diarahkan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam.
Dengan pola ini, keluarga penerima diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangan bergizi secara mandiri. Ketergantungan pada pembelian di pasar pun berkurang, sehingga pengeluaran rumah tangga bisa ditekan di tengah tekanan inflasi.
"Melalui berbagai intervensi tersebut, baik spesifik maupun sensitif, kami berharap prevalensi stunting Gumas yang pada 2024 berada di angka 14,1 persen, dapat terus menurun," demikian Yantrio.