SAMPIT — Pemkab Kotim melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) telah memulai pengerjaan proyek perbaikan drainase dan badan Jalan Tjilik Riwut sejak 10 Juli 2026. Penanganan tahap awal ini difokuskan pada ruas sepanjang 675 meter yang dinilai paling rawan genangan.
Drainase dan Jalan Dikerjakan Bersamaan
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, Bagus Anugrah Nusantara, menegaskan bahwa perbaikan drainase tidak bisa dilakukan terpisah dari peningkatan badan jalan. Menurutnya, jika hanya saluran air yang dibenahi tanpa menaikkan elevasi jalan, genangan dipastikan tetap terjadi.
“Fokus utamanya sebenarnya drainase. Tapi secara teknis, drainase kalau tidak diimbangi dengan peningkatan jalan akan kalah. Nanti malah tetap banjir,” kata Bagus, Rabu (19/8/2026).
Metode CTRB untuk Percepatan Pengerjaan
Untuk perbaikan badan jalan, kontraktor menggunakan metode Cement Treated Recycling Base (CTRB). Proses daur ulang aspal lama dimulai pada 18 Agustus dan ditargetkan selesai keesokan harinya, sehingga jalan dapat segera dilalui kembali oleh pengendara.
Meski begitu, Bagus menjelaskan bahwa badan jalan yang sudah di-recycling masih membutuhkan proses pemadatan sekitar 14 hari sebelum masuk ke tahap pengaspalan. Sementara untuk saluran drainase, pembangunan dilakukan dengan sistem precast atau beton cetak.
Target Penyambungan Hingga Simpang Empat
Proyek senilai Rp7,5 miliar ini disebut sebagai project maker dalam penanganan banjir di Sampit. Pengerjaan sepanjang 675 meter ini baru merupakan langkah awal, dan ke depan akan disambung secara bertahap hingga mencapai persimpangan Jalan Tjilik Riwut dan Jalan Pramuka atau Pemuda.
“Tahun ini titiknya 675 meter. Jadi kita sudah mulai titik banjirnya, kemudian ke depan akan kita sambung sampai simpang empat Tjilik Riwut-Pramuka-Pemuda,” jelasnya.
Dengan adanya pembenahan drainase sekaligus peningkatan elevasi jalan, Pemkab Kotim berharap genangan di ruas tersebut berkurang dan kenyamanan pengguna jalan meningkat.