SAMPIT — Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur tidak hanya memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga memutus akses warga terhadap air bersih. Wilayah selatan, khususnya sejumlah desa di seberang Samuda, Kecamatan Pulau Hanaut, menjadi titik paling kritis karena air Sungai Mentaya di kawasan itu sudah terasa payau akibat intrusi air laut.
Anggota DPRD Kotim dari Daerah Pemilihan (Dapil) III, Eddy Mashamy, mendata setidaknya 11 desa yang terdampak langsung. Desa-desa tersebut meliputi Rawasari, Makarti Jaya, Hanaut, Bapinang Hulu, Bamadu, Penyaguan, Babaung, Bapinang Hilir, Babirah, Hantipan, dan Bantian Serambu. Hujan yang tak kunjung turun membuat warga semakin bergantung pada pasokan dari luar.
Air Siap Diangkut, Perahu Penyeberangan Belum Ada
Persoalan utama yang dihadapi saat ini bukan sekadar ketersediaan air, melainkan bagaimana mengirimkannya ke seberang sungai. Eddy mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Direktur Perumdam Tirta Mentaya dan mendapat kepastian bahwa stok air bersih sudah disiapkan untuk didistribusikan.
"Sudah dikonfirmasi dengan Direktur Perumdam Tirta Mentaya, air bersih sudah siap diangkut. Namun, alat penyeberangannya yang belum siap," ujarnya, Rabu (19/8/2026).
Informasi yang diterimanya menyebutkan sarana angkutan berupa perahu untuk membawa air tersebut diharapkan segera tersedia. Tanpa armada yang memadai, distribusi ke desa-desa terpencil di Pulau Hanaut dipastikan berjalan lambat dan bergiliran.
Warga Seberang Samuda Jadi Kelompok Paling Terdampak
Eddy menegaskan warga di seberang Samuda merupakan kelompok yang paling menderita akibat kekeringan ini. Air bersih menjadi kebutuhan mendesak untuk memasak, minum, dan keperluan sehari-hari lainnya. Kondisi ini berbeda dengan wilayah Samuda dan sekitarnya yang proses pendistribusiannya dinilai lebih mudah dijangkau.
"Bukan berarti di wilayah Samuda dan sekitarnya tidak ada masalah. Artinya, pendistribusiannya sedikit lebih mudah dibandingkan masyarakat yang ada di seberang Samuda," jelasnya.
Meski begitu, ia mengapresiasi respons cepat Direktur Perumdam Tirta Mentaya yang telah menindaklanjuti permintaan warga. Selama ini, penyaluran air bersih memang terus dilakukan, hanya saja keterbatasan armada membuat jadwal pengiriman tidak bisa dilakukan serentak ke semua desa.
Wakil Bupati Turun Tangan
Eddy juga menyoroti langkah Wakil Bupati Kotim, Irawati, yang dinilai sigap membantu warga di tengah situasi sulit ini. Beberapa kali orang nomor dua di lingkungan Pemkab Kotim itu turun langsung ke lapangan untuk memastikan bantuan air bersih sampai ke tangan masyarakat.
"Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Wakil Bupati Kotim Ibu Irawati yang sudah beberapa kali turun ke lapangan membantu warga kami dalam menyalurkan air bersih," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, upaya pencarian solusi transportasi air lintas sungai masih terus dikoordinasikan antara DPRD, Perumdam, dan pemerintah kabupaten agar kebutuhan dasar warga Pulau Hanaut segera terpenuhi.