Pencarian

Pola Asuh Kasar dan Struktur Otak Anak: Hasil Riset UGM yang Perlu Ibu Tahu

Kamis, 13 Agustus 2026 • 09:37:01 WIB
Pola Asuh Kasar dan Struktur Otak Anak: Hasil Riset UGM yang Perlu Ibu Tahu
Seorang peneliti memaparkan hasil riset mengenai dampak trauma masa kecil terhadap struktur otak anak dalam ujian disertasi di Fakultas Psikologi UGM.

KALIMANTAN TENGAH — Pola pengasuhan yang kasar seringkali dianggap hanya meninggalkan luka psikologis. Namun, sebuah riset terbaru dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap dampak yang lebih dalam: trauma masa kecil ternyata ikut memengaruhi struktur otak anak dan berpotensi menular ke generasi berikutnya.

Temuan ini disampaikan oleh Radhiatul Fitri, mahasiswa S3 Fakultas Psikologi UGM, dalam ujian disertasinya. Penelitiannya berjudul "Trauma Masa Kanak-Kanak dan Pengasuhan Ibu: Peran Reflective Functioning Spesifik Trauma (RF-T) pada Pemrosesan Neural Emosi Anak dan Kompetensi Pengasuhan".

Kenapa Orang Tua Bisa Mengulang Pola yang Sama?

Fitri menjelaskan, orang tua yang pernah mengalami trauma masa kecil, seperti dipukul atau dikunci berhari-hari, cenderung mewariskan pola pengasuhan serupa kepada anak. Namun, ia menegaskan hal tersebut tidak selalu terjadi.

"Trauma itu tidak serta-merta langsung membuat seseorang tidak kompeten dalam mengasuh anak. Reflective functioning trauma inilah yang menjadi mediator terhadap kemampuan dia dalam mengasuh anak," ungkapnya.

Di sinilah peran penting kemampuan refleksi atau "reflective functioning". Orang tua dengan kemampuan refleksi tinggi justru mampu memutus siklus trauma antar generasi. Mereka bisa "move on" dari masa lalu dan tidak membawanya ke cara mereka membesarkan buah hati.

Temuan Utama: Kunci Memutus Siklus Trauma

Hasil penelitian menunjukkan fakta menarik. Ketika trauma masa kecil dikaitkan langsung dengan kompetensi pengasuhan, hubungan yang muncul tidak signifikan. Namun, hasilnya berubah drastis ketika variabel fungsi refleksi trauma dimasukkan ke dalam analisis.

Artinya, kemampuan seseorang untuk merefleksikan traumanya menjadi faktor kunci dalam menentukan kualitas pengasuhan. Bukan trauma itu sendiri yang menentukan segalanya, melainkan bagaimana orang tua memproses dan memahami pengalaman pahit tersebut.

Dampak pada Respons Orang Tua Terhadap Anak

Riset ini juga menemukan perbedaan respons otak antara orang tua dengan fungsi refleksi rendah dan tinggi. Orang tua dengan fungsi refleksi rendah cenderung terlalu waspada terhadap ekspresi emosi anak. Kondisi ini membuat kemampuan mereka dalam meregulasi emosi menjadi lemah.

Sebaliknya, orang tua dengan fungsi refleksi tinggi menunjukkan fleksibilitas neural yang lebih baik. Mereka lebih mampu merespons rangsangan dari anak dengan cara yang sehat dan adaptif, sehingga pengasuhan terasa lebih hangat dan responsif.

Metode Riset: Adaptasi Kuesioner dan Teknologi AI

Penelitian ini menggunakan tiga pendekatan utama. Pertama, adaptasi dan validasi psikometri dari Failure to Mentalize Trauma Questionnaire (FMTQ) untuk mengukur kemampuan refleksi terhadap trauma. Fitri menegaskan kuesioner ini valid digunakan untuk menilai apakah seseorang mampu memproses trauma masa kecilnya.

Kedua, pengembangan dan validasi ekspresi wajah anak Indonesia berusia 2–8 tahun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ketiga, eksperimen elektrofisiologis menggunakan analisis event-related potentials (ERP) dan functional connectivity EEG.

Bagi ibu muda, temuan ini menjadi pengingat bahwa masa lalu tidak harus menentukan cara kita mengasuh anak. Kuncinya adalah mau berefleksi, memahami emosi diri sendiri, dan mencari dukungan jika diperlukan. Dengan begitu, siklus trauma bisa dihentikan dan anak bisa tumbuh dengan pengasuhan yang lebih sehat.

Follow kaltenginfo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.viva.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks