KUALA KURUN — Penilaian Kabupaten/Kota Sehat (KKS) 2027 menuntut kerja bersama lintas sektor, bukan hanya tanggung jawab satu dinas. Bupati Gunung Mas Jaya S Monong menyampaikan hal itu di hadapan jajaran pemerintah kabupaten, Sabtu (17/10/2026).
Ia meminta perangkat daerah, camat, kepala puskesmas, pemerintah desa dan kelurahan, sampai pengurus RT dan RW saling mendukung. Tidak boleh ada pihak yang merasa urusan kesehatan masyarakat hanya milik dinas tertentu.
Jaya menegaskan pihak yang belum mampu akan dibantu, sementara yang sudah berjalan baik diminta menjadi contoh. Menurut dia, gotong royong adalah kekuatan utama dalam menyukseskan penilaian KKS.
"Perangkat Daerah, camat, kepala puskesmas, desa, kelurahan, sampai RT dan RW, serta seluruh pemangku kepentingan harus berkolaborasi, bersinergi, dan saling mendukung," ujar Jaya.
Ia juga meluruskan cara pandang terhadap penilaian ini. Penghargaan bukan tujuan akhir, melainkan penilaian atas dedikasi menaikkan derajat kesehatan warga Gunung Mas.
"Penghargaan akan menyusul sebagai buah dari kerja kita. Dan kalaupun hasilnya belum sesuai harapan, kita tetap menang, karena masyarakat kita menjadi lebih sehat," ucapnya.
Bupati meminta jajarannya bekerja tanpa dibebani rasa takut kalah atau ambisi menang. Tolok ukur yang ia tekankan lebih konkret: anak-anak Gunung Mas sehat, ibu hamil aman, dan warga hidup di lingkungan bersih serta nyaman.
Forum dan pokja di tingkat kabupaten hingga desa dan kelurahan diminta turun ke lapangan. Mereka perlu mendengar langsung aspirasi warga dan menyampaikannya ke pemerintah daerah.
Jaya mengingatkan bahwa efisiensi anggaran tidak hanya dialami Gunung Mas, tetapi hampir seluruh pemerintah daerah di Indonesia. Penyclenggaraan kabupaten/kota sehat tetap harus berjalan dan berkelanjutan.
"Maka saya tekankan, mari kita berinovasi. Penyelenggaraan kabupaten/kota sehat harus tetap berjalan dan berkelanjutan melalui inovasi terbaik, meskipun tanpa tambahan pembiayaan, tentu dengan tetap berpegang pada aturan yang berlaku," ucapnya.
Sejumlah langkah disebutnya bisa ditempuh: menggabungkan kegiatan yang sudah ada, memanfaatkan pertemuan rutin di desa dan kelurahan, serta melibatkan dunia usaha dan masyarakat. Inovasi dinilai menjadi nilai tambah dalam proses penilaian nanti.