YouTube Jangkau 140 Juta Penonton, Sumbang Rp 8,4 Triliun ke PDB 2025

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 14:23:01 WIB
YouTube menjangkau 140 juta penonton dewasa di Indonesia atau setara 89 persen populasi online.

KALIMANTAN TENGAH — YouTube menjangkau 140 juta penonton dewasa di Indonesia atau setara 89% populasi online, dengan kontribusi Rp 8,4 triliun terhadap produk domestik bruto sepanjang 2025. Platform video ini juga menciptakan sekitar 190.000 lapangan pekerjaan di berbagai wilayah. Skala besar itu ditopang tingkat kepercayaan penonton yang disebut lebih tinggi dibanding platform digital lain.

Country Director Google Indonesia Veronica Utami memaparkan sejumlah angka tersebut dalam konferensi pers YouTube Festival, Rabu (7/10). Menurut dia, besarnya basis penonton bukan satu-satunya indikator yang perlu dilihat ketika menilai kehadiran platform di suatu pasar.

"Yang paling penting bukan hanya berapa banyak orang yang menonton, tapi dampak apa yang diciptakan," kata Veronica.

Kontribusi Ekonomi dan Serapan Tenaga Kerja

Angka Rp 8,4 triliun yang disumbangkan YouTube ke PDB Indonesia pada 2025 dihitung dari aktivitas ekonomi yang berputar di ekosistem platform, mulai dari belanja iklan hingga pendapatan kreator. Sekitar 190.000 lapangan pekerjaan yang tercipta tersebar di berbagai wilayah, tidak hanya terkonsentrasi di Jawa.

Veronica menyebut peran platform sudah bergeser jauh dari sekadar layanan streaming video. "YouTube sudah berevolusi bukan hanya lagi sebuah platform video streaming, tapi sekarang menjadi the epicenter of culture, connection and also commerce," ujarnya.

Kepercayaan Penonton Melampaui TV dan Media Sosial

Survei internal Google menemukan 95% penonton di Indonesia menempatkan YouTube sebagai platform yang paling mereka percaya dibanding platform digital lain. Angka itu lebih tinggi dari televisi, TikTok, Facebook, dan Instagram.

Kebebasan kreator memilih format dinilai menjadi salah satu pemicu tingginya kepercayaan tersebut. Kreator bisa memproduksi konten dalam bentuk Shorts, siaran langsung, atau video berdurasi panjang sesuai gaya masing-masing.

"Sebanyak 95% dari penonton di Indonesia itu menyatakan bahwa YouTube adalah platform yang paling mereka percaya. Dan ini lebih tinggi daripada platform yang lain dibandingkan TV, TikTok, Facebook, dan Instagram," kata Veronica.

Menurut dia, kebebasan menentukan format sekaligus gaya itu melahirkan otentisitas yang mempererat hubungan kreator dengan penonton. "Itulah yang membangun relationship atau hubungan dan kepercayaan yang mendalam antara kreator dengan subscriber atau follower atau komunitasnya," ujarnya.

Daya Tahan Konten Jadi Nilai Jual ke Pengiklan

Karakteristik lain yang membedakan YouTube dari platform berbasis social feed adalah umur tayangan. Veronica menyebut sekitar 40% total views sebuah video baru diperoleh setelah bulan pertama video diunggah.

"Total views-nya itu justru datang setelah satu bulan pertama, bandingkan itu dengan social feed yang sifatnya sangat cepat naik, cepat turun. Dalam 24 jam itu bisa hilang dari feed," katanya.

Pola distribusi semacam itu membuat konten tidak bergantung pada momentum unggahan awal. Video bisa terus ditemukan dan ditonton kembali dalam jangka panjang, bahkan bertahun-tahun setelah publikasi.

Bagi brand yang ingin menjangkau audiens lewat kreator, kombinasi antara tingkat kepercayaan tinggi dan daya tahan konten menjadi pertimbangan utama. Dua faktor itu yang disebut Veronica membuat YouTube kini berperan sebagai pusat budaya, koneksi, dan perdagangan, bukan sekadar kanal distribusi video.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top