Menkeu Suahasil Kenang Frans Seda, Pengabdian Lintas Zaman di Keuangan Negara

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 14:22:01 WIB
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan sambutan dalam Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda di Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (1/10).

KALIMANTAN TENGAH — Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan jabatan publik punya masa waktunya, tetapi pengabdian kepada negara tidak mengenal batas zaman. Pesan itu disampaikannya saat mengenang Menteri Keuangan periode 1966-1968, Frans Seda, dalam acara Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda di Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (1/10).

Suahasil menilai sosok Frans Seda meninggalkan warisan yang jarang dimiliki pejabat publik: kemampuan menjaga relevansi pengabdian lintas era. Frans Seda memimpin Kementerian Keuangan saat Indonesia berada di masa transisi dari Orde Lama menuju Orde Baru.

Menurut Suahasil, keberhasilan Frans Seda melewati dinamika politik dua rezim itu menjadi pelajaran bagi pejabat publik hari ini. Sebab, masa kepemimpinan di pemerintahan selalu memiliki tenggat waktu.

Fondasi Sistem Keuangan Sebelum Pelita

Peninggalan bersejarah yang paling menonjol dari Frans Seda, kata Suahasil, adalah keberhasilannya meletakkan fondasi sistem keuangan negara sebelum Indonesia menerapkan program Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Fondasi itu menjadi dasar bagi pengelolaan fiskal pada periode-periode berikutnya.

Suahasil memandang keistimewaan Frans Seda terletak pada kemampuannya menjaga relevansi pengabdian lintas era. Sosoknya dinilai sukses melewati dinamika Orde Lama dan mengantarkan perekonomian nasional menuju masa transisi Orde Baru pada 1966-1968.

Dedikasi tersebut terus berlanjut meski Frans Seda sudah tidak menduduki kursi kementerian. "Saya bicara dengan banyak sekali senior di Kementerian Keuangan yang merasa mendapatkan masukan pandangan dari Bapak Frans Seda, bahkan sampai beliau wafat," ujar Suahasil.

Suahasil memandang relevansi pengabdian lintas generasi semacam itu merupakan sebuah warisan (legacy) luar biasa yang menjadi cita-cita bagi semua orang.

Dari Iuran Negara ke Cikal Bakal DJP dan DJBC

Sejarah mencatat peran krusial Frans Seda dalam mentransformasi struktur kelembagaan di lingkungan Kementerian Keuangan. Ia mengubah Direktorat Jenderal Iuran Negara (DDIN) menjadi cikal bakal berdirinya Direktorat Jenderal Pajak (DJP) serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

Transformasi kelembagaan itu menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah administrasi perpajakan dan kepabeanan Indonesia. Kedua direktorat jenderal tersebut kini menjadi tulang punggung penerimaan negara.

Nama Frans Seda Diabadikan di Gedung Kemenkeu

Sebagai bentuk penghormatan, nama Frans Seda kini diabadikan menjadi salah satu gedung di Kompleks Kementerian Keuangan, Lapangan Banteng, Jakarta. Gedung tersebut saat ini digunakan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR).

Penamaan gedung itu menjadi pengingat bagi jajaran Kementerian Keuangan tentang jejak kepemimpinan Frans Seda. Suahasil menegaskan, karena masa kepemimpinan di pemerintahan memiliki tenggat waktu, sudah sepatutnya seorang pejabat publik mampu menjaga relevansi pengabdiannya kepada negara.

"Jabatan itu ada masa waktunya, namun pengabdian tidak pernah mengenal batas zaman," ujar Suahasil dalam acara tersebut.

Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda menjadi forum refleksi bagi Kementerian Keuangan untuk meneladani jejak kepemimpinan lintas zaman. Pesan utama yang ditekankan Suahasil: warisan seorang pejabat publik diukur dari keberlanjutan kontribusinya, bukan dari lamanya ia menjabat.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top