PALANGKA RAYA — Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng, dan personel TNI mengevakuasi Novita dari lokasi karhutla di Daerah Katune. Proses penyelamatan memakan waktu karena petugas harus menembus asap tebal dan memastikan api tidak menjalar ke pohon tempat satwa itu bertahan.
Luka bakar serius di kedua tangan dan kaki menjadi bukti betapa keras Novita berjuang sebelum pertolongan datang. Dalam kondisi terluka, orang utan kecil itu masih sempat membuat sarang di atas pohon.
BKSDA Kalteng mengungkapkan bahwa Novita berada dalam posisi yang sangat rentan saat ditemukan. Usianya yang baru sekitar 4 tahun membuatnya belum mampu menyelamatkan diri dari kobaran api yang meluas di kawasan hutan sekitar permukiman warga.
"Di tengah kepungan api dan asap, 1 individu orang utan kecil bertahan sendirian di atas pohon. Usianya baru sekitar 4 tahun, dengan berat sekitar 17 kilogram," demikian keterangan BKSDA Kalteng melalui akun Instagram resminya.
Menurut BKSDA, Novita tidak bisa meminta pertolongan seperti manusia. Luka-luka di tubuhnya menjadi satu-satunya tanda betapa berat perjuangan yang dilaluinya sebelum tim penyelamat tiba di lokasi.
"Orang utan kecil tidak bisa bercerita tentang apa yang terjadi, tidak bisa meminta pertolongan. Namun luka bakar serius di kedua tangan dan kakinya seakan menjadi cerita tentang perjuangan yang baru saja di lalui," jelas BKSDA.
Kawasan Banturung dan Bukit Batu masuk wilayah penyangga hutan gambut di sekitar Palangka Raya. Saat karhutla melanda, satwa liar seperti orang utan kehilangan jalur perpindahan dan terpaksa bertahan di pohon yang belum terbakar.
Kondisi itu membuat mereka rentan terjebak. Api yang menjalar di bawah sering memutus akses turun ke tanah, sementara asap tebal mengganggu pernapasan satwa.
BKSDA menegaskan bahwa penanganan satwa terdampak karhutla tidak boleh dilakukan sendiri oleh warga. Pendekatan yang salah justru bisa memperburuk kondisi hewan maupun membahayakan manusia.
Masyarakat diminta segera melapor ke petugas jika menemukan satwa langka yang terdampak kebakaran atau berada di sekitar permukiman. BKSDA menekankan tiga larangan utama dalam situasi seperti itu.
"Jika melihat satwa liar berada di sekitar permukiman atau terdampak kebakaran, jangan didekati, jangan diberi makan, dan jangan ditangani sendiri. Segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani dengan aman. Karena mereka tidak bisa meminta pertolongan. Kitalah yang bisa menjadi suara mereka," jelasnya.
Laporan cepat dari warga dinilai menentukan tingkat keberhasilan evakuasi. Semakin lama satwa bertahan di area terbakar, semakin besar risiko luka bakar, dehidrasi, dan gangguan pernapasan akibat asap.
Setelah dievakuasi, Novita langsung dibawa ke Klinik BOSF Nyaru Menteng. Tim medis fokus menangani luka bakar di tangan dan kakinya serta memulihkan kondisi fisiknya yang lemah.
BOSF Nyaru Menteng memiliki pengalaman panjang menangani orang utan korban konflik dengan manusia dan bencana lingkungan di Kalimantan Tengah. Fasilitas itu menjadi rujukan utama untuk perawatan satwa dilindungi di wilayah tersebut.
"Novita memang tidak mampu bersuara. Tapi luka di tubuh kecilnya sudah cukup untuk menceritakan semuanya. Semoga Novita pulih dan suatu hari nanti dapat kembali ke rumah yang seharusnya, yang lebih aman dan nyaman," jelas BKSDA.
Pemulihan Novita akan bergantung pada hasil perawatan medis dan evaluasi tim konservasi. Jika kondisinya membaik, ia berpeluang menjalani proses rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat yang aman.