KALIMANTAN TENGAH — Jakarta — Harga perak Antam hari ini tercatat Rp 41.860, turun dari posisi sebelumnya Rp 44.200. Koreksi ini mengikuti pergerakan harga emas Antam dan harga perak dunia yang sama-sama melemah. Mengutip laman logammulia.com, Antam menawarkan perak batangan 250 gram seharga Rp 10.990.000 dan 500 gram dipatok Rp 21.055.000, dengan kemurnian 99,95 persen.
Harga perak di pasar global diperdagangkan di kisaran US$ 63,5 per ons pada Jumat, setelah sempat anjlok lebih dari 5 persen di sesi sebelumnya. Mengutip tradingeconomics.com, perak dunia turun 0,43 persen menjadi US$ 63,27 per ons.
Tekanan datang dari data harga produsen AS yang menunjukkan percepatan inflasi pada Agustus, dipicu kenaikan biaya energi akibat konflik Iran. Pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 71 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pekan depan, naik dari 61 persen sebelum data indeks harga produsen (PPI) dirilis.
Lonjakan harga minyak di tengah eskalasi konflik AS-Iran turut memperkuat kekhawatiran inflasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga melonjak setelah Departemen Keuangan AS mencatat volume pembelian kembali (buyback) yang lebih rendah dari perkiraan.
Kenaikan imbal hasil obligasi membuat aset non-yielding seperti perak kalah menarik. Biaya peluang memegang perak meningkat ketika obligasi menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Perak diperkirakan mencatat penurunan sekitar 4 persen sepanjang pekan ini, menandai pekan ketiga berturut-turut dalam tren negatif. Harga minyak mentah Brent sendiri melonjak 4 persen ke US$ 105 per barel pada Kamis, setelah serangan besar terhadap kapal pengangkut memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
Sebagian besar ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan 15-16 September serta sepanjang sisa tahun ini. Namun, CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pekan depan naik menjadi 68 persen dari sebelumnya 62 persen.
Analis Keuangan Senior Capital.com, Klye Rodda, menuturkan data indeks harga produsen mengindikasikan peningkatan inflasi inti di ekonomi AS, sebagian disebabkan kenaikan biaya energi. "Pasar obligasi harus mencerminkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dan persisten akibat kenaikan harga minyak, yang menyebabkan penurunan harga emas," ujar Rodda.
Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini, upaya meredam inflasi energi akibat perang. Di antara logam lainnya, harga perak spot turun 4 persen menjadi US$ 64,56 per ons, platinum turun 4,6 persen ke US$ 1.808,43, dan paladium turun 3,9 persen menjadi US$ 1.300,00.
Bagi investor logam mulia, pekan depan menjadi penentu arah harga perak Antam. Keputusan The Fed soal suku bunga akan menentukan apakah tren koreksi tiga pekan beruntun ini berlanjut atau berbalik arah.