KALIMANTAN TENGAH — Peradangan kronis sering luput disadari. Efeknya bukan cuma badan cepat lemas, tapi juga menurunkan daya ingat, memicu radang sendi, jantung, diabetes, gangguan imun, hingga kanker.
Michiko Tomioka, ahli gizi asal Nara, Jepang, punya cara sederhana menghadapinya. Ia rutin mengonsumsi bahan makanan tradisional Jepang yang kaya nutrisi untuk mendongkrak imun dan menjaga energi tetap stabil.
"Bahan-bahan ini kaya akan nutrisi esensial yang dapat membantu melawan peradangan, meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, serta mendongkrak fokus dan energi," ujar Michiko, dikutip dari CNBC.
Kabar baiknya, bahan-bahan ini tidak sulit dicari. Selain di pasar swalayan Asia, banyak yang kini tersedia di supermarket umum.
Konnyaku adalah bahan berbentuk jeli padat dari umbi konjac. Di Jepang, olahan ini sangat populer dan sering diubah menjadi mi shirataki.
Kandungan glukomanan di dalamnya, sejenis serat larut, bagus untuk pencernaan. Teksturnya kenyal dan mudah menyerap bumbu, sehingga sering jadi pilihan untuk mengelola berat badan.
Rumput laut rendah kalori tapi kaya serat, mineral, dan polifenol penangkal radang. Nori dan wakame jadi dua jenis yang paling mudah diolah.
Keduanya bisa dicampur ke onigiri, sup, atau salad segar. Praktis untuk stok harian di rumah.
Dapur orang Jepang hampir tak pernah lepas dari miso (pasta kedelai), natto (kedelai fermentasi), dan nukazuke (acar fermentasi dedak).
Natto punya keunggulan tersendiri. Kedelai fermentasi ini kaya probiotik dan prebiotik untuk usus, plus tinggi protein nabati dan vitamin K2 yang bagus untuk tulang.
"Tanpa natto, sup miso, dan acar, sarapan saya terasa tidak lengkap," kata Michiko.
Katsuobushi adalah ikan cakalang yang diasap, dikeringkan, lalu difermentasi hingga mengeras. Setelah itu diserut tipis-tipis.
Hasilnya, konsentrat protein tinggi dengan rasa umami alami tanpa lemak berlebih. Biasanya dipakai sebagai bahan kaldu dashi atau taburan di atas tahu dan salad.
Shiitake, maitake, enoki, dan shimeji termasuk jamur yang kaya serat dan protein. Semuanya bebas kolesterol.
Jamur kering bisa jadi stok andalan untuk campuran sup atau kari. Rasanya gurih alami tanpa tambahan kalori berlebih.
Teh hijau tanpa gula dan susu hampir tidak mengandung kalori. Antioksidannya mendukung metabolisme dan imunitas tubuh.
Michiko bahkan tidak membuang ampas daun tehnya. Ampas itu ia campur ke salad porsi kecil dengan dressing cuka atau miso.
"Saya juga rutin mempraktikkan upacara minum teh tradisional Jepang untuk menyajikan matcha. Ini adalah bagian dari ritual harian saya yang memberikan rasa sukacita dan ketenangan jiwa," tutupnya.
Enam bahan di atas bisa dicoba bertahap, tidak perlu sekaligus. Mulai dari yang paling gampang ditemukan di pasar atau supermarket terdekat.
Kuncinya konsisten, bukan langsung mengubah seluruh menu harian. Satu bahan baru setiap pekan sudah cukup untuk membangun kebiasaan.