KALIMANTAN TENGAH — Ketahanan pangan nasional tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh rantai panjang di belakangnya. Salah satu mata rantai terpenting adalah kepastian petani mendapatkan pupuk dengan harga terjangkau dan tepat waktu. Dalam konteks inilah peran PT Pupuk Indonesia (Persero) sebagai produsen utama menjadi penentu.
Sepanjang tahun 2025, perusahaan pelat merah ini telah menyalurkan 8.110.571 ton pupuk bersubsidi, meningkat 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu menunjukkan skala distribusi yang dikelola untuk melayani jutaan petani di berbagai wilayah.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah berhasil menurunkan harga pupuk hingga 20 persen. Penurunan ini disebutnya sebagai peristiwa bersejarah karena baru pertama kali terjadi di Indonesia.
"Pertama kali harga pupuk dapat kita turunkan kepada rakyat," kata Prabowo dalam pidato Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat (14/8/2026).
Yang menarik, penurunan harga tidak diikuti pengurangan pasokan. Sebaliknya, volume ketersediaan pupuk justru bertambah. "Pada saat yang sama harga turun, tapi volume ketersediaan tambah untuk rakyat kita. Sehingga rakyat kita sekarang mudah mendapatkan pupuk dan karena itu produksi meningkat," ujarnya.
Realisasi penyaluran hingga September 2026 mencapai 6,33 juta ton atau hampir dua pertiga dari alokasi tahun ini. Pupuk Indonesia mengandalkan sistem i-Pubers untuk mempercepat proses penebusan pupuk bersubsidi di tingkat pengecer.
Implementasi Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 turut menyederhanakan tata kelola distribusi. Regulasi ini membuat alur penyaluran lebih ramping sehingga pupuk diharapkan tiba lebih cepat dan tepat sasaran di tangan petani yang berhak.
Untuk menjaga pasokan jangka panjang, Pupuk Indonesia mengandalkan kapasitas produksi nasional sekitar 14,8 juta ton per tahun. Jumlah ini memberi ruang memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menangkap peluang ekspor tanpa mengganggu pasokan dalam negeri.
Perusahaan tengah menyiapkan program revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan. Langkah ini bertujuan meningkatkan efisiensi produksi dan nilai tambah aset yang dimiliki.
Kinerja keuangan yang solid menjadi modal utama menjalankan program revitalisasi. Pada semester I 2026, Pupuk Indonesia membukukan laba bersih Rp8,51 triliun, tumbuh 253 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Pendapatan perusahaan naik 51 persen menjadi Rp59,67 triliun, sementara EBITDA melonjak 140 persen ke angka Rp14,28 triliun. Peningkatan volume produksi dan efisiensi biaya operasional menjadi pendorong utama kinerja tersebut.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan transformasi yang dijalankan perusahaan menjadi fondasi menjaga keberlanjutan pasokan pupuk nasional. Dengan fundamental keuangan yang kuat, perusahaan memiliki ruang lebih luas untuk berinvestasi sekaligus memastikan pupuk tetap terjangkau bagi petani.
Pada akhirnya, keberhasilan industri pupuk tidak diukur semata dari kapasitas pabrik atau catatan laba. Ukuran sesungguhnya adalah seberapa cepat pupuk sampai ke tangan petani dan seberapa besar kontribusinya terhadap produksi pangan nasional.