SAMPIT — Keputusan penundaan itu diumumkan langsung oleh Wakil Bupati Kotim, Irawati, setelah rapat koordinasi digelar di lingkungan Pemkab Kotim. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang telah mempersiapkan diri, baik sebagai peserta maupun penonton pawai.
“Untuk Pawai Pembangunan di tanggal 22 itu dilakukan penundaan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Karena mengingat kita saat ini fokus penanganan Karhutla dan kekeringan di Kotim,” kata Irawati, Rabu (19/8/2026).
Irawati menegaskan bahwa kondisi karhutla dan kekeringan di Kotim saat ini telah menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Oleh karena itu, seluruh sumber daya dan perhatian pemerintah daerah saat ini dikerahkan untuk menangani dampak bencana tersebut.
“Jadi kita fokus dulu bagaimana menangani Karhutla dan kekeringan karena semuanya adalah untuk kepentingan masyarakat tentunya,” ujarnya.
Menariknya, keputusan penundaan ini datang di tengah persiapan yang sudah berjalan di lapangan. Berdasarkan pantauan usai rapat koordinasi, sejumlah tenda di depan Rumah Jabatan Bupati Kotim di Jalan Ahmad Yani, Sampit, yang menjadi titik start pawai, tampak mulai dipasang. Sebagian tenda sudah berdiri, meski proses pemasangannya belum sepenuhnya selesai.
Kondisi ini menggambarkan situasi darurat yang dihadapi daerah, di mana perayaan hari kemerdekaan harus dikorbankan demi fokus pada keselamatan dan kebutuhan dasar warga yang terdampak bencana asap serta kekurangan air bersih.
Dalam pernyataannya, Irawati menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada masyarakat yang telah mempersiapkan diri menyambut pawai. Ia berharap keputusan ini dapat dipahami sebagai langkah darurat yang diambil demi kepentingan yang lebih besar.
“Dalam hal ini, masyarakat yang sudah mempersipkan diri, saya mewakili Bapak Bupati atas nama Pemerintah Daerah mohon maaf yang sebesar-besarnya karena memang keadaan kita,” ungkapnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai jadwal pengganti pelaksanaan pawai. Pemkab Kotim masih akan memantau perkembangan penanganan karhutla dan kekeringan sebelum memutuskan waktu pelaksanaan yang baru.