SAMPIT — Beban kerja petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur mencapai titik puncak pada Senin lalu. Posko Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan mencatat belasan titik api tersebar di sejumlah wilayah, memaksa tim bekerja mulai pukul 08.00 hingga 23.59 WIB.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat. Ia mengakui tidak semua laporan kejadian yang masuk dapat ditangani secara maksimal karena keterbatasan personel dan kemampuan di lapangan.
“Kami atas nama Posko Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan, mohon maaf yang sebesar-besarnya tidak dapat menangani semua kejadian yang terlapor kepada kami pada tanggal 17 Agustus 2026,” ujar Multazam.
Multazam menegaskan, angka 17 yang muncul dalam laporan operasi harian murni jumlah titik yang berhasil didatangi petugas. Ia mengingatkan agar angka tersebut tidak dikaitkan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI.
“Ini bukan karena 17 Agustus,” tegasnya.
Dari belasan lokasi yang didatangi, kondisi akhir di lapangan belum seluruhnya aman. Sebagian titik hanya bisa dilakukan pembasahan atau sekat basah untuk menahan perluasan api, sementara lainnya masih menyisakan asap akibat lapisan gambut yang tebal.
Multazam menyebut, beberapa lokasi berada dalam kondisi padam sebagian dan masih berpotensi memunculkan api baru jika tidak dipantau. Hal ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi satgas yang jumlah personelnya terbatas.
Di tengah keterbatasan, Multazam mengapresiasi keterlibatan relawan dan masyarakat yang ikut membantu pemadaman di sejumlah titik. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi faktor penting dalam menekan meluasnya kebakaran.
“Terima kasih para relawan, masyarakat, berbagai pihak yang telah membantu Kabupaten Kotawaringin Timur dalam keadaan terjaga,” katanya.
Ia juga mengimbau warga untuk tidak membakar hutan dan lahan dengan sengaja, membuang puntung rokok sembarangan, serta menghentikan aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran. Imbauan ini disampaikan menyusul tingginya frekuensi karhutla yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Kotim.