UGM Pakai AI untuk Skrining Kanker Serviks dari Sampel Urine, Cakupan Pemeriksaan di Indonesia Masih di Bawah 3 Persen

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:32:01 WIB
Rektor UGM Prof Ova Emilia menyampaikan riset AI untuk skrining kanker serviks berbasis sampel urine di Sleman, Kamis (13/8/2026).

KALIMANTAN TENGAH — Riset AI di UGM tidak dimulai dari ketersediaan teknologi, melainkan dari persoalan nyata di masyarakat. Rektor UGM, Prof Ova Emilia, menyebutkan bahwa pengembangan produk dan riset AI sangat bergantung pada tantangan dan isu yang sedang dihadapi, bukan semata-mata mengejar kecanggihan teknologi.

Masalah Utama: Rasa Malu dan Cakupan Skrining yang Minim

Data yang dipaparkan dalam peluncuran NVAITC menunjukkan bahwa cakupan pemeriksaan kanker serviks di Indonesia sangat rendah, yakni di bawah 3 persen. Prof Ova menegaskan bahwa salah satu penghalang terbesar bagi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan adalah perasaan malu.

"Coverage di Indonesia itu hanya kurang dari 3 persen orang yang cek, artinya karena malu," ujarnya saat ditemui di UGM, Sleman, Kamis (13/8/2026).

Terobosan Metode: Sampel Urine ala Tes Kehamilan

Berangkat dari hambatan psikologis tersebut, para peneliti mencari metode alternatif yang lebih nyaman. Gagasannya adalah menggunakan sampel urine untuk pemeriksaan, sebuah pendekatan yang dianalogikan dengan tes kehamilan di rumah.

"Sampel menggunakan sampel kencing seperti orang kalau cek hamil, misalnya kayak gitu. Artinya itu kan suatu terobosan," jelas Prof Ova.

Metode ini diharapkan mampu menghilangkan posisi tidak nyaman yang kerap membuat masyarakat enggan menjalani skrining konvensional. Dengan begitu, partisipasi publik dalam deteksi dini diharapkan bisa meningkat signifikan.

Arah Riset dan Dukungan Kampus

Prof Ova menegaskan bahwa ide-ide inovatif seperti ini lahir dari para praktisi dan periset di lapangan. Manajemen universitas tidak menentukan topik riset secara top-down, melainkan memberikan payung penelitian yang selaras dengan kebutuhan pemerintah dan prioritas nasional.

"Kita mendorong peneliti, researcher, mahasiswa supaya melakukan penelitian sesuai dengan apa yang kita hadapi, masalah yang dihadapi," imbuhnya.

Dengan hadirnya UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center (NVAITC), kapasitas komputasi dan pengembangan model AI di kampus diharapkan semakin kuat. Kolaborasi ini menjadi infrastruktur penting untuk menguji dan mengimplementasikan metode skrining berbasis urine tersebut agar bisa diakses luas oleh masyarakat Indonesia.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top