KALIMANTAN TENGAH — On memperluas lini Cloudmonster menjadi tiga model: standar, Hyper, dan Hyper LS. Saya memakai ketiganya untuk uji jangka panjang—lebih dari 30 mil untuk Cloudmonster 3 dan 3 Hyper, serta hampir 50 mil untuk Hyper LS—untuk mencari tahu varian mana yang paling masuk akal dibeli. Fokus pengujian ada pada perbedaan rasa bantalan, bobot, dan apakah harga premium sepadan dengan performa lari harian.
Di Indonesia, harga resmi belum diumumkan, tapi patokan globalnya jelas: Cloudmonster 3 dibanderol USD 190 (sekitar Rp 3 juta), sementara Cloudmonster 3 Hyper naik ke USD 220 (sekitar Rp 3,5 juta). Jika Anda menginginkan varian tertinggi Hyper LS dengan teknologi LightSpray, siapkan USD 280 (sekitar Rp 4,5 juta).
Perbedaan harga itu bukan sekadar gimmick. Setiap kenaikan kelas membawa perubahan fundamental pada midsole dan bobot, bukan cuma tambahan aksen warna.
Cloudmonster 3 standar menggunakan tiga lapis pod CloudTec berbahan Helion foam di seluruh midsole. Hasilnya adalah ride yang khas On—terasa padat dan kaku, terutama jika dibandingkan dengan sepatu lari modern yang cenderung empuk. Untuk easy run, bentuk rockered-nya membantu transisi footstrike terasa mulus, tapi saat pace dinaikkan, sepatu ini kekurangan energi balik yang "punchy".
Lompatan ke Cloudmonster 3 Hyper langsung terasa di kaki pertama. Busa Helion HF berbasis PEBA di lapisan atas menggantikan CloudTec penuh, menciptakan sensasi lebih empuk dan springy. Dalam pengujian saya, sepatu ini jauh lebih nyaman untuk long run dan steady run—area di mana versi standar mulai terasa keras di kilometer 15 ke atas.
Perbedaan ini juga terlihat dari angka stack height. Cloudmonster 3 memiliki tinggi 35mm di heel dan 29mm di forefoot, sementara versi Hyper naik menjadi 39,5mm dan 33,5mm. Dengan drop 6mm yang sama, penambahan material ini yang membuat perbedaan rasa begitu signifikan.
Bobot menjadi pembeda paling mudah diukur. Di ukuran US 9.5, Cloudmonster 3 standar berbobot 10,7 ons (sekitar 303 gram), sementara versi Hyper turun menjadi 9,5 ons (sekitar 269 gram). Pengurangan 34 gram ini terasa saat kaki mulai lelah—setiap ayunan terasa lebih ringan tanpa mengorbankan stabilitas.
Upper pada kedua model ini identik: konstruksi konvensional yang nyaman, menahan kaki dengan baik, dan cukup breathable. Namun, Hyper LS menggunakan upper LightSpray one-piece yang membuat bobotnya turun drastis menjadi hanya 7,6 ons (sekitar 215 gram). Konsekuensinya, fit-nya tidak bisa disesuaikan—jika Anda memiliki high arches atau kaki lebar, upper ini berisiko kurang nyaman. Saya sendiri menyukai fit-nya yang pas dan nyaman untuk jarak jauh, tapi ini sangat subjektif.
Ketiga sepatu ini menangani easy run dengan baik. Perbedaannya mulai terlihat saat intensitas dinaikkan. Cloudmonster 3 standar adalah pilihan paling aman untuk pemulihan dan lari santai, tapi kurang responsif untuk interval atau tempo run.
Cloudmonster 3 Hyper adalah peningkatan yang jelas untuk daily training. Busa Helion HF membuatnya lebih hidup, dan dalam pengujian saya, sepatu ini luar biasa untuk long effort. Namun, untuk workout cepat, ia masih belum ideal—di sinilah Hyper LS unggul telak.
Hyper LS adalah sepatu super-trainer sejati. Bobotnya yang sangat ringan dan bantalan springy membuat tempo run terasa menyenangkan, bukan perjuangan. Ia juga memiliki rentang penggunaan paling luas—dari very easy run hingga interval session, semua terasa natural. Ini adalah salah satu super-trainer paling mengesankan dari merek mana pun saat ini.
Ketiga model menggunakan outsole podded dengan lapisan karet tebal di sekitar heel dan forefoot. Setelah pemakaian puluhan kilometer, tidak ada tanda-tanda keausan tidak wajar. Cengkeraman juga solid di berbagai kondisi permukaan yang saya uji.
Jika budget adalah prioritas dan Anda hanya mencari sepatu untuk easy run plus dipakai sehari-hari, Cloudmonster 3 standar adalah pilihan masuk akal. Tapi jujur, untuk pemakaian lari yang serius, saya menyarankan menabung lebih untuk versi Hyper—perbedaan Rp 500 ribu terasa seperti membeli sepatu dua tingkat lebih baik.
Cloudmonster 3 Hyper adalah sweet spot dari lini ini. Ia lebih nyaman, lebih ringan, dan lebih serbaguna daripada versi standar, dengan harga yang masih masuk akal. Saya bahkan memakainya untuk penggunaan harian di luar lari karena desainnya yang menarik.
Untuk Hyper LS, ia adalah sepatu lari terbaik dari ketiganya—bahkan salah satu super-trainer terbaik yang pernah saya coba. Namun, harganya yang hampir Rp 4,5 juta dan fit yang tidak bisa disesuaikan membuatnya hanya layak dibeli jika Anda sudah mencoba dan cocok dengan upper LightSpray-nya. Kalau tidak, Cloudmonster 3 Hyper adalah pilihan paling rasional untuk sebagian besar pelari.