Kabut Asap Pekat Selimuti Sampit, AQI Tembus 160, Warga Tunda Antar Anak ke Sekolah

Penulis: Puguh Triyono  •  Rabu, 05 Agustus 2026 | 12:36:01 WIB
Jarak pandang di ruas jalan protokol Kota Sampit menyusut hingga 800 meter akibat kabut asap pada Rabu pagi (5/8/2026).

SAMPIT — Jarak pandang di sejumlah ruas jalan protokol Kota Sampit, Kalimantan Tengah, menyusut drastis hingga hanya 800 meter pada Rabu pagi (5/8/2026). Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit mencatat penurunan signifikan tersebut pada pukul 07.00 WIB akibat tebalnya kabut asap.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, Marjuki, menyebut kualitas udara di wilayahnya berada pada level tidak sehat. Berdasarkan pantauan The Weather Channel pukul 06.12 WIB, indeks kualitas udara (AQI) mencapai 160 dengan polutan utama PM2.5, partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikron yang berbahaya bagi sistem pernapasan manusia.

Warga Keluhkan Bau Menyengat dan Mata Perih

Selain mengganggu jarak pandang, kabut asap yang pekat ini turut menimbulkan bau menyengat dan membuat mata terasa perih. Sebagian besar pengendara sepeda motor yang melintas di jalan protokol terpantau mengenakan masker untuk mengurangi dampak paparan asap saat beraktivitas di luar ruangan.

“Kualitas udara pagi ini berada pada kategori tidak sehat dengan angka AQI 160. Saya mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta menggunakan masker jika terpaksa harus beraktivitas di luar ruangan,” kata Marjuki dalam keterangannya.

Orang Tua Tunda Berangkatkan Anak ke Sekolah

Kekhawatiran warga pun meningkat. Hamli, seorang ayah yang memiliki anak di bangku sekolah dasar, mengaku sengaja menunda keberangkatan anaknya hingga kondisi kabut sedikit membaik. Ia menilai risiko kesehatan akibat menghirup asap terlalu besar bagi anaknya.

“Iya, tadi pagi kabut asapnya pekat banget. Jadi saya terpaksa agak lambat mengantar anak ke sekolah, sekitar 30 sampai 45 menit dari waktu biasanya,” ungkapnya.

Keluhan serupa disampaikan Rian. Ia berencana menambah stok masker di rumah untuk melindungi keluarganya dalam beberapa pekan ke depan.

“Kabut asapnya pagi ini pekat banget. Sepertinya untuk beberapa waktu ke depan harus stok lebih banyak masker, buat jaga kesehatan dari bahaya kabut asap,” ujarnya.

Status Tanggap Darurat Karhutla Berlaku, Puncak Kemarau di Depan Mata

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim telah menetapkan status tanggap darurat bencana karhutla dan kekeringan. Langkah ini diambil agar upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan bisa berjalan lebih optimal, mengingat puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026.

Kabut asap diperkirakan masih berpotensi menyelimuti Kota Sampit selama karhutla di musim kemarau terus terjadi. Marjuki mengimbau warga untuk tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apa pun, karena dampaknya langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: tintaborneo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top