Kebutuhan Listrik RI Tumbuh 5,4 Persen per Tahun, PLN Kunci Pasokan LNG Hingga 49 Juta Ton

Penulis: Qodri Anwar  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:00:01 WIB
Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero) Rakhmad Dewanto berbicara dalam The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Bali.

KALIMANTAN TENGAH — Permintaan listrik Indonesia diproyeksikan melesat seiring pertumbuhan ekonomi dan munculnya pusat-pusat konsumsi energi baru. Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero) sekaligus Pelaksana Harian Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, menyatakan kebutuhan energi primer nasional meningkat sekitar 2 persen per tahun, tetapi permintaan listrik tumbuh jauh lebih tinggi.

"Permintaan listrik Indonesia akan terus meningkat. Karena itu kita membutuhkan pasokan energi yang aman, andal, dan fleksibel," ujar Rakhmad dalam The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Intercontinental Resort Jimbaran, Bali.

LNG Jadi Penyeimbang di Tengah Naiknya Porsi EBT

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, produksi listrik nasional diproyeksikan naik dari 304,4 TWh menjadi 584,3 TWh. Porsi pembangkit batu bara turun ke sekitar 47 persen, sementara kontribusi energi baru terbarukan naik ke 33 persen.

Di sinilah peran gas dan LNG menjadi krusial. Ketika pembangkit surya atau angin berfluktuasi, LNG berfungsi sebagai energi penyeimbang yang menjaga keandalan sistem. PLN memproyeksikan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik tumbuh rata-rata 4,5 persen per tahun—dari 1.748 BBTUD pada 2026 menjadi hampir 2.490 BBTUD pada 2034.

Porsi LNG dalam pasokan gas PLN diperkirakan meningkat dari 57 persen menjadi 67 persen. Artinya, LNG bukan sekadar energi transisi, melainkan tulang punggung keandalan sistem kelistrikan nasional.

Kontrak Jangka Panjang dan Infrastruktur LNG

Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan tersebut, PLN EPI memperkuat pengamanan pasokan melalui kontrak jangka panjang bersama West Natuna Exploration Limited (WNEL), Mubadala Energy, INPEX, dan South Hub. Kerja sama ini mencakup pasokan gas hingga 300 BBTUD dan kontrak LNG lebih dari 49 juta ton.

Di sisi infrastruktur, PLN mempercepat pembangunan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Cilegon. Klaster gasifikasi di Indonesia Timur juga tengah dibangun untuk memperluas distribusi.

Kapasitas penyimpanan LNG nasional akan ditingkatkan menjadi sekitar 1,2 juta meter kubik dengan kapasitas regasifikasi mencapai 3.850 MMSCFD. Infrastruktur ini dirancang untuk memperkuat ketahanan rantai pasok energi di tengah dinamika geopolitik global.

"Kita tetap mendorong peningkatan energi baru dan terbarukan. Namun sistem kelistrikan juga harus tetap andal. Di sinilah gas memiliki peran strategis untuk menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan," tandas Rakhmad.

Penguatan kontrak pasokan jangka panjang, percepatan infrastruktur LNG, dan diversifikasi rantai pasok menjadi fondasi PLN membangun sistem energi yang tangguh. Langkah ini sekaligus mendukung integrasi energi baru terbarukan dan target Net Zero Emissions Indonesia.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top