KALIMANTAN TENGAH — GIIAS 2026 menjadi ajang Honda untuk memamerkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar deretan produk anyar. Lewat kehadiran Super-ONE, Honda memperkenalkan kerangka kerja bernama "Culture. Evolved." yang menjadi fondasi pengembangan semua kendaraannya—baik bermesin konvensional, hybrid, maupun full listrik. Pesan utamanya tegas: elektrifikasi adalah evolusi, bukan revolusi yang menghilangkan jati diri.
Bagi konsumen Indonesia yang akan mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk mobil listrik, pertanyaan terbesarnya bukan cuma soal jarak tempuh, tapi juga apakah mobil itu menyenangkan dikendarai. Honda mencoba menjawabnya lewat lima prinsip yang mereka sebut sebagai benang merah seluruh lini produk.
Honda merinci lima prinsip utama yang menjadi dasar setiap model yang mereka buat. Kelima pilar ini bukan sekadar jargon pemasaran, melainkan standar teknis yang bisa dilacak pada produk nyata:
Dari kelima prinsip di atas, aspek Purposeful Engineering pada Super-ONE paling menarik untuk dicermati. Kombinasi konstruksi ringan, wheel track lebih lebar, dan baterai yang diposisikan rendah adalah formula klasik mobil berkarakter handling stabil. Titik gravitasi yang rendah secara langsung mengurangi body roll saat bermanuver, sesuatu yang kerap menjadi kelemahan mobil listrik bergaya SUV tinggi.
Ini sinyal bahwa Honda tidak sekadar mengejar angka jarak tempuh, tetapi juga serius merancang Super-ONE sebagai kendaraan yang nyaman dan percaya diri dikendarai di jalanan Indonesia yang kondisinya beragam.
Keputusan untuk membeli Super-ONE masih harus menunggu sekitar satu bulan lagi. Honda mengonfirmasi bahwa pemesanan resmi akan dibuka pada 5 Agustus 2026, berbarengan dengan pengumuman harga jual. Artinya, calon konsumen yang serius harus bersabar untuk mengetahui posisi Super-ONE di segmen mobil listrik yang kian kompetitif.
Yang perlu diperhatikan, tanpa angka resmi soal kapasitas baterai, jarak tempuh, atau tenaga, calon pembeli belum bisa membandingkan Super-ONE secara head-to-head dengan kompetitor sekelasnya. Keputusan pembelian yang bijak sebaiknya menunggu data teknis lengkap yang akan dirilis mendekati tanggal pemesanan.
“Bagi Honda, elektrifikasi bukanlah perubahan terhadap jati diri kami, melainkan evolusi dari cara kami mewujudkan nilai-nilai yang selalu menjadi fondasi Honda. Melalui tema ‘Culture. Evolved.’, kami ingin menunjukkan bahwa teknologi, produk, pengalaman, hingga identitas visual akan terus berkembang mengikuti zaman, namun filosofi Engineered for Driving Joy akan selalu menjadi karakter yang menyatukan setiap Honda, termasuk Honda Super-ONE sebagai ekspresi terbaru Honda Culture di era elektrifikasi,” jelas Yusak Billy selaku Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor.
Meski narasi filosofi ini terdengar meyakinkan, ada beberapa catatan yang perlu diingat calon pembeli. Pertama, Honda belum merilis spesifikasi detail Super-ONE, termasuk kapasitas baterai dan fitur ADAS. Kedua, harga belum diumumkan, sehingga posisinya di pasar—apakah akan bersaing di bawah atau di atas Rp 500 juta—masih misteri.
Yang jelas, Honda sedang membangun ekspektasi bahwa Super-ONE akan menjadi EV yang "enak dikendarai", bukan sekadar kendaraan listrik yang steril. Jika klaim ini terbukti saat pengujian independen nanti, Super-ONE bisa menjadi alternatif serius bagi mereka yang menginginkan EV dengan karakter berkendara ala mobil konvensional yang sudah matang. Namun, sampai data resmi keluar, semua masih sebatas janji manis dari panggung pameran.