BNPB Catat 2.245 Warga di Jawa Tengah dan Jawa Barat Terdampak Kekeringan Akibat Curah Hujan Menurun

Penulis: Surya Dinata  •  Rabu, 17 Juni 2026 | 01:02:01 WIB
BNPB mencatat 2.245 warga Jawa Tengah dan Jawa Barat terdampak kekeringan akibat penurunan curah hujan.

KALIMANTAN TENGAH — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 2.245 warga di dua provinsi, Jawa Tengah dan Jawa Barat, terdampak kekeringan. Fenomena ini mulai dirasakan seiring intensitas curah hujan yang menurun signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Data tersebut dihimpun BNPB dari laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Daerah Terdampak dan Skala Krisis Air Bersih

Kekeringan tidak merata di seluruh wilayah. BNPB mengidentifikasi titik-titik kritis berada di daerah yang selama ini menjadi langganan krisis air bersih saat musim kemarau. Di Jawa Tengah, beberapa kabupaten mulai melaporkan penurunan debit sumber air utama warga.

Sementara itu, Jawa Barat mencatat jumlah warga terdampak lebih banyak. Dari total 2.245 jiwa, sebagian besar berada di wilayah selatan dan timur provinsi tersebut. BPBD di kedua provinsi telah melakukan pendataan dan mendistribusikan bantuan air bersih secara bertahap.

Penyebab: Pergeseran Musim dan Fenomena Iklim

Penurunan curah hujan yang memicu kekeringan ini tidak terlepas dari dinamika atmosfer regional. BNPB menyebutkan bahwa fenomena iklim seperti Monsun Australia yang membawa massa udara kering mulai aktif. Kondisi ini diperparah dengan awal musim kemarau yang maju di beberapa zona musim.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya menekankan pentingnya antisipasi dini. “Kami meminta pemerintah daerah untuk tidak menunggu status darurat. Logistik air bersih harus sudah disiagakan sekarang,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa respons cepat lebih diutamakan ketimbang menunggu eskalasi bencana.

Langkah Mitigasi dan Imbauan bagi Warga

BNPB menginstruksikan BPBD untuk mengaktifkan posko pengaduan dan memetakan sumber air alternatif. Sumur bor dan embung desa menjadi andalan utama untuk memenuhi kebutuhan domestik. Selain itu, pemerintah daerah diminta mengoptimalkan pompa air dari sungai terdekat jika memungkinkan.

Warga diimbau untuk mulai melakukan penghematan air. Penggunaan air untuk irigasi pertanian non-pangan juga diminta ditunda sementara. BNPB memperkirakan puncak kekeringan akan terjadi pada Agustus hingga September mendatang, sehingga persiapan logistik harus rampung sebelum Juli.

“Kami terus memonitor perkembangan setiap hari. Jika ada penambahan wilayah terdampak, data akan diperbarui secara berkala,” tambah Abdul Muhari. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa akibat kekeringan, namun ancaman gagal panen di beberapa sentra padi mulai mengemuka.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top