SAMPIT — Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, menyoroti alur distribusi MinyaKita yang dinilai menjadi biang keladi kenaikan harga di tingkat pedagang. Sidak yang dilakukan bersama TPID ke pabrik PT Sukajadi Sawit Mekar (SSM) di kawasan Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, justru mengonfirmasi bahwa stok dari produsen aman.
Menurut Irawati, masalah utama bukan pada produksi, melainkan pada tata cara penyaluran di lapangan. Ia mencontohkan, produsen seharusnya bisa langsung menyalurkan MinyaKita ke Bulog, lalu dari Bulog langsung ke mitra. Namun, kenyataannya ada terlalu banyak tempat singgah yang membuat harga melonjak.
"Kalau memang produsen ini menyalurkannya ke Bulog, ya langsung saja. Begitu pula Bulog ke mitranya," tegas Irawati di Sampit.
Dari sidak itu, ditemukan bahwa para mitra Bulog yang biasanya menerima pasokan 50 dus per pengiriman, kini hanya mendapat 20 dus. Pemangkasan ini langsung disikapi pedagang dengan menaikkan harga jual ke konsumen. Akibatnya, daya beli masyarakat menurun dan berkontribusi pada inflasi daerah yang saat ini tercatat 4,18 persen.
"Karena harga tinggi otomatis daya beli masyarakat menurun itulah menyebabkan inflasi di daerah kita," tambah Irawati.
Pihak PT Sukajadi Sawit Mekar yang diwakili Julhendro mengakui adanya penurunan produksi. Kapasitas pabrik yang sebelumnya beroperasi 75 persen saat ekspor tinggi, kini menurun drastis karena penyesuaian kuota ekspor dan kewajiban pasar domestik (DMO).
"Pendistribusian lancar, tapi memang produksi ada menurun sedikit karena kita menyesuaikan kuota ekspor," ujar Julhendro.
Sejak 1 Juni lalu, perusahaan memutuskan untuk memotong jalur distribusi ke distributor swasta seperti Wahana yang biasanya mengambil pasokan hingga 50.000. Semua produksi kini dialihkan satu pintu melalui Bulog demi menjamin ketersediaan di Kotim. Irawati pun mengajak camat dan lurah ikut mengawasi distribusi guna mencegah praktik penimbunan.