KALIMANTAN TENGAH — Persetujuan rencana pengembangan atau Plan of Development (PoD) Lapangan Ronggolawe diharapkan mempercepat konversi cadangan menjadi produksi. Direktur Eksplorasi dan Pengembangan SAKA, Fuji Koesumadewi, dalam siaran pers yang dikutip Jumat (12/6), mengatakan langkah ini memberikan nilai tambah bagi perseroan.
Lapangan Ronggolawe – PHE-7 merupakan hasil unitisasi antara Wilayah Kerja Pangkah dan West Madura Offshore (WMO) yang dioperasikan oleh Pertamina Hulu Energi WMO. Dalam tahap awal, SAKA akan mengebor empat sumur pengembangan yang terhubung dengan fasilitas produksi eksisting melalui jaringan pipa bawah laut.
Pengeboran itu dirancang untuk mengoptimalkan potensi reservoir. Dengan target produksi 5.126 barel per hari, lapangan ini menjadi salah satu andalan baru Pertamina di sektor hulu migas.
Fuji menegaskan pihaknya akan mengedepankan efisiensi dan efektivitas biaya selama proses pengembangan. "Kami akan terus mengedepankan efisiensi dan efektivitas biaya, dengan tetap menjunjung tinggi aspek keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan," ujarnya.
Pendekatan itu penting mengingat proyek hulu migas kerap menghadapi tantangan teknis dan biaya tinggi. SAKA berupaya menjaga agar pengembangan Lapangan Ronggolawe tetap ekonomis di tengah fluktuasi harga minyak global.
Produksi dari Lapangan Ronggolawe akan berkontribusi terhadap target lifting minyak nasional yang ditetapkan pemerintah. Dengan cadangan terbukti 10 juta barel, lapangan ini diharapkan mampu menopang pasokan energi dalam negeri dalam jangka menengah.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya SKK Migas mengakselerasi proyek-proyek hulu migas yang sudah mengantongi persetujuan PoD. Hingga saat ini, sejumlah lapangan baru tengah dikebut untuk mengejar target produksi 1 juta barel per hari pada 2030.
Dengan onstream pada akhir 2029, Lapangan Ronggolawe menjadi salah satu proyek strategis yang akan memperkuat portofolio hulu Pertamina di kawasan timur Indonesia.