PALANGKA RAYA — Kenaikan harga Pertamax yang mencapai 32 persen dalam sekejap membuat publik di Palangka Raya waswas. Bukan hanya soal harga BBM non-subsidi itu sendiri, tetapi efek berantai yang dipicu oleh perbedaan harga yang terlalu mencolok dengan Pertalite yang masih disubsidi pemerintah.
"Terus terang kenaikan BBM jenis Pertamax yang sangat tinggi tersebut sangat mengagetkan karena dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter," kata Khemal Nasery di Palangka Raya, Kamis.
Khemal menjelaskan, selisih harga yang mencapai lebih dari Rp4.000 per liter antara Pertamax dan Pertalite dipastikan akan mengubah perilaku konsumen. Masyarakat yang sebelumnya menggunakan Pertamax diprediksi akan berbondong-bondong beralih ke Pertalite yang lebih murah.
"Perbedaan harga yang cukup tinggi membuat masyarakat akan berlomba-lomba mencari Pertalite. Dampaknya tentu luar biasa dan kita bisa kembali melihat antrean panjang untuk mendapatkan BBM bersubsidi," ucapnya.
Kekhawatiran lainnya menyangkut pasokan kebutuhan pokok. Sekitar 90 persen kebutuhan pokok warga Palangka Raya didatangkan dari luar daerah, seperti Banjarmasin dan Sampit. Jika biaya transportasi ikut naik akibat kenaikan harga BBM, maka harga sembako di pasar tradisional pun akan ikut merangkak naik.
Menurut Khemal, pemerintah kota tidak bisa diam saja. Ia menunggu langkah konkret dari Pemkot Palangka Raya untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi daya beli warga yang saat ini sedang tertekan.
"Ini merupakan pukulan berat bagi kita semua dan dampaknya sangat luar biasa," tuturnya.
Ia mengimbau warga untuk sementara waktu mengurangi aktivitas yang tidak terlalu penting guna menekan pengeluaran. Selain itu, para orang tua diminta memberikan pemahaman kepada generasi muda agar lebih bijak dalam membelanjakan uang di tengah situasi ekonomi yang dinilai cukup berat.
Di tengah kondisi yang serba sulit, Khemal juga mendorong pemerintah untuk memperbanyak program padat karya dan kegiatan swakelola yang melibatkan masyarakat. Menurutnya, program semacam itu bisa menjadi bantalan sosial yang efektif.
"Kalau kegiatan pemerintah bisa menyerap tenaga kerja, artinya dapat membantu menekan angka kemiskinan dan menjaga daya beli masyarakat," ujarnya.
Ia berharap kondisi ini segera berlalu dan perekonomian daerah kembali pulih. Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat bersama-sama menjaga situasi keamanan dan ketertiban di tengah tekanan ekonomi yang kian berat.