KALIMANTAN TENGAH — Aplikasi bernama Zest ini menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan kebiasaan makan pengguna berdasarkan data transaksi kartu kredit. Pengguna cukup menghubungkan kartunya melalui layanan finansial Plaid, dan Zest akan mengimpor data restoran yang pernah dikunjungi. Data yang diambil hanya transaksi makanan dan minuman, tidak termasuk restoran cepat saji untuk mengurangi kebisingan informasi.
Setelah kartu terhubung, Zest membuat peta kuliner personal. Dari situ, algoritma AI belajar preferensi pengguna—mulai dari tempat favorit yang sering dikunjungi hingga nominal pengeluaran. Semakin sering dipakai, rekomendasi yang diberikan akan semakin akurat.
Selain data transaksi, Zest juga mengumpulkan lebih dari 80 juta ulasan dari berbagai sumber. Mulai dari panduan kuliner kelas atas seperti Michelin, hingga rekomendasi dari forum seperti Reddit. Pendekatan ini membuat Zest bisa merekomendasikan tempat-tempat tersembunyi (hidden gems) yang mungkin tidak populer di aplikasi lain.
Pada bulan ini, Zest meluncurkan fitur freeform note yang memungkinkan pengguna menulis catatan apa pun tentang suatu restoran. Misalnya, cara mendapatkan reservasi, menu yang wajib dipesan, atau tips lainnya.
Selanjutnya, Zest juga akan menghadirkan fitur "Fresh Picks". Konsepnya mirip Discovery Weekly-nya Spotify, tetapi khusus untuk rekomendasi restoran baru di kota pengguna. Fitur ini diharapkan membantu pengguna menemukan tempat makan baru secara rutin tanpa harus mencari manual.
Zest bukan yang pertama mencoba pendekatan data transaksi untuk rekomendasi. Sebelumnya, ada Blippy yang gagal karena hanya berbagi data tanpa membangun jaringan yang bisa belajar dari data tersebut. Bedanya, Zest membangun jaringan sosial berdasarkan perilaku makan nyata, bukan sekadar unggahan untuk pamer.
Co-founder Zest, Mario Gomez-Hall, menjelaskan bahwa pendekatan ini lebih jujur. "Alih-alih soal pamer kalau pergi ke restoran Michelin star, ini lebih tentang tempat favoritmu—warung burrito yang kamu sukai dan bisa diandalkan," ujarnya. "Kami menampilkan itu karena kami melihat frekuensi dan pengeluarannya."
Zest saat ini sudah menarik lebih dari 100.000 kunjungan sejak peluncuran publik. Aplikasi ini tersedia untuk umum dan dapat digunakan untuk melacak kunjungan makan serta mendapatkan rekomendasi di kota sendiri atau saat bepergian.
Ke depannya, tim Zest berencana memperluas jangkauan tidak hanya pada restoran, tetapi juga tempat-tempat populer lain di kota seperti tempat belanja. "Kami menamainya Zest karena ini bukan 100% soal makanan. Ini tentang semangat untuk hidup dan eksplorasi," tambah Gomez-Hall.
Untuk pengguna di Indonesia, aplikasi ini belum tersedia secara resmi. Namun, konsepnya bisa menjadi referensi bagaimana teknologi AI dan data transaksi bisa merevolusi cara kita menemukan tempat makan favorit.